Opini Detail

Aforisma Pilgub Jabar 2018

Aforisma Pilgub Jabar 2018

  • 08 Oktober 2017
  • 111

Oleh: Asep Kurniawan*

Menjelang batas waktu pendaftaran pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat pada 22-26 Nopember 2017, peta koalisi partai politik di Jawa Barat kian alot. Bongkar pasang koalisi masih kerap terjadi. NasDem sendiri telah mantap mendukung Ridwan Kamil, Walikota Bandung sejak 19 Maret 2017. Dukungan NasDem kepada Ridwan Kamil didasari oleh segudang prestasi yang telah dikoleksi Lulusan Master dari Barkeley University ini.


Menurut teori Kepemimpinan Bass yang dicetuskan tahun 1985, teori tersebut merujuk pada dua tipe kepemimpinan: transaksional dan transformasional. Kepemimpinan transaksional lebih menitikberatkan pada proses jual-beli (give and take) antara pemimpin dan rakyat. Model ini tentu saja merupakan model kepemimpinan standar yang sudah tidak begitu lazim diterapkan pada kondisi saat ini.


Sedangkan kepemimpinan transformasional lebih memilih menginsipirasi rakyat agar mampu mencapai target-target yang diinginkan. Menurut Bass, secara garis besar, kepemimpinan transformasional mengedepankan tindakan-tindakan seorang pemimpin yang mampu membuat timnya menghormati, percaya, dan menghargai sang pemimpin. Sang pemimpin juga akan menginsiprasi rakyat untuk mengutamakan kepentingan tim sehingga mampu mencapai target melebihi ekspektasi.


Model kepemimpinan transformasional ini jauh lebih disukai oleh generasi millennial yang saat ini menjadi populasi dominan di Indonesia menurut riset Ryus tahun 2013.


Menurut Ryus ada empat hal yang mendekatkan generasi millennial kepada jenis kepemimpinan transformasional ini yaitu pertama, idealized influence atau karisma, kedua, inspirational motivation atau mampu menjual visi besar, ketiga, intellectual stimulation atau mampu berimajinasi dan berinovasi, dan keempat, individualized consideration atau mampu menjadi mentor dan menginspirasi.


Sosok Ridwan Kamil termasuk dari apa yang dipaparkan riset Ryus ini. Ia mampu mengolah visi, imajinasi, dan inspirasi menjadi sebuah gerakan yang kolektif di Kota Bandung. Sejak Ridwan Kamil menjadi Ketua Bandung Creative City Forum (BCCF) memang kemampuannya dalam mengelola lintas komunitas di Bandung yang berjumlah puluhan tersebut menjadi sebuah potret bagaimana Ridwan Kamil dapat mengintegrasikan gagasan-gagasan yang beragam dari banyaknya komunitas. Wajar, jika pengalamannya di BCCF membawanya menjadi orang nomor satu di Kota Bandung. Terbukti, di bawah kepemimpinannya sejak tahun 2013, Kota Bandung disulap menjadi kota humanis, bahkan pada 2017, Kota Bandung berhasil naik peringkat pada kategori Index Kebahagiaan 73,42 naik 0,15 dari tahun 2016.


Rintangan Politik Identitas 


Langkah Ridwan Kamil untuk melenggang di Jawa Barat tidak mudah begitu saja. Walaupun menurut beberapa lembaga survei Ridwan Kamil selalu diunggulkan semisal Lembaga Survey Indonesia (LSI) menempatkan Ridwan Kamil di posisi nomor satu dengan perolehan 34,2 persen, sementara itu menurut survei SMRC, Ridwan Kamil pun berada di posisi pertama yakni memperoleh 31,4 persen suara. Namun untuk memperkokoh posisi Ridwan Kamil memenangkan kontestasi di Pilgub Jabar 2018, setidaknya Ia harus memiliki elektabilitas di atas 50 persen dengan strong voterssebesar 25 sampai 30 persen.


Sebagian besar masyarakat sebenarnya berpendapat bahwa peta koalisi Pilgub Jabar akan sama dengan Pilkada DKI Jakarta. Provinsi Jawa Barat memiliki demografis dan tipologi yang berbeda dengan Jakarta. Apabila Jakarta merupakan Ibukota yang sangat plural, namun tak mampu membendung isu politik identitas saat itu. Sementara Jawa Barat merupakan basis Umat Islam yang dibuktikan dengan banyaknya Pesantren yang tersebar di Kota/Kabupaten di Jawa Barat. Namun bukan berarti isu politik identitas tidak akan dijadikan tema kontestasi politik pada Pilgub Jabar 2018 meskipun Ridwan Kamil merupakan kelompok pribumi dan muslim. Justru isu politik identitas ini masih akan menjadi komoditas politik yang kuat. Ada isu politik identitas lainnya yang akan dipakai sebagai alat untuk menggoyang prestasi gemilang Walikota Bandung ini.


Politik identitas sendiri sebenarnya merupakan isu primitif dalam bingkai percaturan politik modern. Namun, sebagian kelompok mencoba melakukan eksperimen terhadap model ini yang ternyata terbukti berhasil tidak hanya di Indonesia, namun di beberapa Negara lainnya di dunia pun berhasil diaktifasikan.


Menurut Kristianus, politik identitas merupakan perebutan kekuasaan politik berdasarkan identitas etnis maupun agama. Perjuangan politik identitas pada dasarnya ialah perjuangan kelompok atau orang–orang pinggiran (periferi), baik secara politik, sosial, maupun budaya dan ekonomi (kristinus, 2009:255).


Sedangkan menurut teori Manuel Castells, politik identitas merupakan partisipasi individual pada kehidupan sosial yang lebih ditentukan oleh budaya dan psikologis seseorang. Identitas merupakan proses kontruksi dasar dari budaya dan psikokultural dari seorang individu yang memberikan arti dan tujuan hidup dari individu tersebut, karena terbentuknya identitas adalah proses dialog internal dan interaksi sosial (Castells, 2010:6-7).


Politik identitas dapat menghasilkan perbedaan. Hal ini relevan dengan apa yang dikatakan oleh Latif dalam Setyanto dan Pulungan, 2009:40, bahwa politik identitas adalah ‘politic of difference yang didasarkan pada pencarian perbedaan’. Dikatakan lebih lanjut oleh Latif, bahwa di seluruh dunia, politik identitas yang mengukuhkan perbedaan etnis, agama, dan bahasa, mengalami gelombang pasang.


NasDem sendiri mencoba untuk bisa mematahkan virus politik identitas yang dapat memperkeruh stabilitas politik nasional dengan cara terus mengukuhkan kesetiaan terhadap NKRI dan Pancasila. Sebagai basis daerah santri di Jawa Barat, NasDem pun ikut mendukung perkembangan syiar Islam di Jawa Barat dan Indonesia dengan meluncurkan Alquran Digital.


Alquran Digital persembahan Partai NasDem ini juga menyediakan 99 Asmaul Husna atau Asma Allah. Selain itu, Alquran persembahan Partai NasDem ini juga memuat terjemahan 11 bahasa asing, yaitu bahasa Indonesia, Inggris, Belanda, Jerman, Prancis, Jepang, Rusia, Spanyol, China, Finlandia, dan India. Keberagaman terjemahan bahasa ini menjadikan Alquran Digital Partai NasDem seakan mencakup dunia dalam satu aplikasi.


Selain itu, sebagai bentuk kepedulian dan sumbangsih Partai NasDem terhadap kekayaan Nusantara, Alquran Digital persembahkan Partai NasDem ini juga memasukkan bahasa Ibu Pertiwi atau bahasa daerah.


Saat ini setidaknya ada sejumlah bahasa daerah, seperti Aceh, Batak Angkola, Dayak Kanayatan, Jawa Banyumasan, Kaili, Makassar, Minang, Mongondow, Sasak, serta Toraja, yang menjadi terjemahan dalam Alquran Digital persembahan Partai NasDem. Fitur ini nantinya akan terus berkembang mengikuti terjemahan bahasa daerah yang dapat dipertanggungjawabkan. Alquran digital persembahan Partai NasDem semakin lengkap karena terdapat fitur Asbabun Nuzul atau sejarah turunnya Alquran.


Bagi pengguna yang sedang dalam perjalanan atau musafir tidak perlu khawatir karena Alquran Digital persembahan Partai NasDem menyediakan fitur masjid terdekat untuk memudahkan pengguna mengetahui lokasi masjid terdekat yang terintegrasi dengan ¬Global Position System (GPS) dan Google Maps. Tidak hanya itu, pengguna juga dapat mengetahui jadwal sholat secara realtime mengikuti ketetapan pemerintah kota/kabupaten yang dikehendaki. Alquran Digital yang diluncurkan Partai NasDem telah mendapatkan sertifikat Tashih dari Kementerian Agama, teruji baik ayat-ayat maupun terjemahannya.


Ridwan Kamil pun semasa menjadi Walikota Bandung mengklaim memiliki 9 agenda Bela Islam antara lain pertama, melakukan Sholat Subuh berjamaah, kedua, aplikasi mobile zakat, ketiga, pembangunan LPTQ, keempat, pengajian rutin di pendopo, kelima, pembinaan MTQ juara, keenam, dakwah digital, ketujuh, maghrib mengaji, kedelapan, pelatihan bahasa inggris untuk Ulama, dan kesembilan, meraih predikat Kota Islami dari Maarif Institute.


Aforisma Program Kandidat


Aforisma atau sikap serta harapan yang diambil oleh Ridwan Kamil terbagi ke dalam 3 tantangan bagi pembangunan Jawa Barat di masa mendatang. Ketiga tantangan tersebut antara lain, pertama infrastruktur, kedua daya beli, dan ketiga lapangan pekerjaan. Ketiga hal tersebut menurut Ridwan Kamil akan menjadi prioritas program kerjanya apabila kelak terpilih menjadi Gubernur Jawa Barat.


Persoalan klasik pendanaan yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tentu saja harus bisa diatasi melalui model Public Private Partnership (PPP) yang dapat melibatkan peran pihak swasta dalam pembangunan. Konsep ini menurut Ridwan Kamil adalah “kita mengundang pihak luar untuk membangun, kita bayar 15-20 tahun, tapi perubahan datang cepat”.


Ridwan Kamil juga memiliki program menarik di Kota Bandung yakni kredit tanpa agunan untuk melawan rentenir. Program ini membuat 2.000 warga Bandung bebas dari jeratan rentenir dalam satu tahun terakhir. Program ini dapat diduplikasi ke warga-warga, nelayan, petani miskin dengan skema yang sama.


Adaptasi dan duplikasi konsep pengelolaan ekonomi di Kota Bandung ini menjadi menarik apabila dapat di insert ke dalam tata kelola yang lebih besar di Jawa Barat. Namun Ridwan Kamil harus dapat memastikan pola kepemimpinannya dapat merata baik di wilayah kota maupun kabupaten, mengingat Jawa Barat memiliki tantangan dan keunikan yang berbeda dibandingkan provinsi lain.


Ridwan Kamil juga harus dihadapkan pada tantangan pola pemerataan ekonomi di beberapa wilayah yang saat ini mendapatkan kue pembangunan yang cukup signifikan seperti pembangunan Bandara Internasional Kertajati di Majalengka, Waduk Jatigede di Sumedang, Jalur TOL Cipali, Cigatas, Jagoratu, dan Bocimi.


Penduduk lokal diharapkan mendapatkan porsi ekonomi yang cukup untuk bisa mengembangkan status sosial ekonomi mereka. Apalagi para investor dari luar pulau jawa sudah mengepung daerah-daerah strategis di lokasi pembangunan tersebut. Kue ekonomi Jawa Barat ini harus mampu ditangkap dengan baik oleh Ridwan Kamil sebagai peluang meningkatkan kesejahteraan warga Jawa Barat apabila kelak dirinya dapat diberikan kesempatan untuk memimpin Provinsi Jawa Barat.(*)


*Asep Kurniawan


Sekretaris Partai NasDem DPD Kabupten Sumedang

,