Opini Detail

Sumpah Pemuda dan Kebangkitan Generasi Restorasi

Sumpah Pemuda dan Kebangkitan Generasi Restorasi

  • 28 Oktober 2017
  • 79

Oleh: Yusadar Waruwu,S.Pd.

Sesaat lagi kita akan memperingati kembali hari Sumpah Pemuda yang ke-89. Sumpah Pemuda mengingatkan kita pada peran penting perjuangan pemuda-pemudi bangsa Indonesia untuk merebut kedaulatan dari kolonialisme dan telah menjadi tonggak utama kemerdekaan.

Beberapa tahun setelah kelahiran kesadaran nasional pada 20 Mei 1908 yang dikenal dengan ‘Budi Utomo’, kaum muda saat itu telah berhasil menemukan satu konsep yang paling penting untuk meraih kedaulatan bangsa. Ini didapat dari pengalaman perjuangan masa lalu yang dilakukan oleh para leluhur kita, yang masih membela dan mempertahankan kerajaan-kerajaan, pulau-pulau atau suku-sukunya masing-masing dari kolonialisme.

Kaum muda melihat bahwa sistem pembelaan dan pertahanan yang dilakukan masing-masing suku atau masing-masing pulau dinilai kurang masksimal untuk mengusir para kolonial dari bumi pertiwi. Kaum muda menyadari bahwa kita tidak akan pernah bisa meraih kedaulatan itu sepenuhnya jika masih dikotak-kotakkan dengan perbedaan suku dan pulau.

Tepatnya 28 Oktober 1928, pemuda-pemudi Indonesia menggagas sebuah konsep baru yang menghantarkan Indonesia pada sebuah kemerdekaan. Gaung ini terdengar keras dan membakar semangat nasionalisme dan patriotisme seluruh masyarakat di seluruh pelosok Nusantara. Konsep ini akhirnya dirumuskan dan diikrarkan menjadi sebuah sumpah yang sampai saat ini dikenal dengan ‘Sumpah Pemuda’ yakni (1) KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA, (2)
KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA (3) KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA.

Lahirnya sumpah pemuda ini kemudian menyatukan nusantara sebagai ‘Bangsa Indonesia’.  Nusantara menjadi satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Sumpah pemuda juga membentuk para pemuda Indonesia sebagai barisan yang kuat untuk merebut kemerdekaan. Pemuda Indonesia menyatu dengan semangat yang
senada. Pemuda Indonesia bergerak dalam satu kesatuan dan satu tujuan untuk mengusir para kolonialis dan merebut kemerdekaan.

Betapa besarnya, peran pemuda dalam merebut kemerdekaan. Pemuda telah memberikan kita makna penting untuk menyadari berdirinya sebuah bangsa, yang semula berawal dari perjuangan suku-suku dan pulau-pulau yang berbeda. Melalui sumpah pemuda, akhirnya perjuangan yang datang dari perbedaan ini menyatu dalam perjuangan pembelaan terhadap tanah air, hingga berdirilah suatu bangsa yaitu Bangsa Indonesia.

Kolonel TNI (Purn) Eusebio H. Rebello, Sekretaris Utama (Settama) Akademi Bela Negara (ABN) Partai NasDem pernah mengungkapkan bahwa “Indonesia lahir dari persamaan perasaan yang hendak hidup untuk bersatu sebagai satu bangsa”.

Istilah ini diperkenalkan oleh Eusebio H. Rebello pada kuliah umum tentang ‘Keharmonisan dalam Keragaman’ di Balai Pendidikan ABN Partai NasDem pada 24 Oktober 2017. Kalimat ini menjelaskan bahwa Indonesia lahir dari keragaman yang tidak menolak perbedaan antara satu dengan yang lain. Mereka justru memiliki perasaan yang sama untuk hidup bersama dalam satu kesatuan. Perbedaan dapat disatukan menjadi satu kekuatan besar yang memudahkan mereka untuk menjadikan kita sebagai bangsa yang berdaulat. Kedaulatan itu kini telah menjadi hak yang diwariskan kepada kita saat ini.

Namun beberapa dekade terakhir, masih terdapat masyarakat yang kurang memberikan pengakuan dan penerimaan terhadap perbedaan ini. Solidaritas antara perbedaan belum bisa sepenuhnya ditunjukkan. Hal ini dibuktikan dengan munculnya konflik pada beberapa wilayah di Indonesia yang diakibatkan oleh perbedaan agama, suku, golongan dan sebagainya.

Sebagai contoh, kerusuhan di kota Poso, Sulawesi Tengah, merupakan konflik sosial di antara umat Islam dan Nasrani. Konflik lain yang dipicu dari sengketa tanah dan karena perbedaan suku terjadi di Flores Timur yang mengakibatkan dua Desa di Lewolema saling perang dan mengakibatkan dua orang harus dirawat di rumah sakit.

Soekarno pernah berkata dalam pidatonya memperingati hari Sumpah Pemuda yang ke dua puluh delapan (1956). “Barangsiapa yang saat ini membangkitkan kembali ide kepulauan, ide provincialisme dan ide federalisme orang itu adalah seperti orang yang menggali kubur dan mencoba mengidupkan kembali tulang dari orang yang dikuburkan 28 tahun lampau!”.

Pesan ini menjelaskan para founding fathers kita tidak mengharapkan ide-ide perpecahan yang mengkotak-kotakan kita dalam perbedaan. Bahkan Soekarno mengganggap itu sebagai sikap yang mencoba menggali kembali kubur para pemuda-pemudi Indonesia yang telah berikrar pada sumpah kesatuan. Beliau menegaskan kepada kita untuk tidak sekali-kali memunculkan ide kepulauan, ide provincialisme dan ide federalism itu, sebab sama dengan tindakan yang telah membangkitkan kembali tulang-tulang dan amarah pemuda-pemudi (leluhur kita) yang telah dikuburkan sejak 89 tahun yang lampau.

Generasi muda adalah harapan dan masa depan bangsa. Bangsa ini akan maju apabila para pemudanya memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi dan sikap toleransi yang menghargai dan mengakui pluralisme atau perbedaan yang ada. Suatu bangsa akan maju jika para pemudanya memelihara kedamaian dan keadilan.

Jika dilihat dari kuantitas pemuda memiliki populasi yang cukup banyak sekitar 24,5% dari total jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 252 juta orang (BPS, 2014). Ratio yang cukup besar ini sesungguhnya menjadi kekuatan besar untuk memajukan Indonesia. Soekarno pernah menyampaikan bahwa “camkanlah kata-kata saya ini, dari sepenuh hatiku saya anjurkan, cintailah dan majukanlah di segala lapangan di daerah mu masing-masing. Tetapi jangan lupa bahwa di daerahmu masing-masing itu adalah bagian yang tidak bisa dipisah-pisahkan dari satu tubuh yaitu Tanah Air Indonesia, Bangsa Indonesia dan Bahasa Indonesia”.

Soekarno memiliki kerinduan pemuda generasi saat ini ikut berpatisipasi dalam mempertahankan keutuhan dan kesatuan bangsa serta ikut serta dalam memajukan Indonesia untuk bisa bersaing di kancah internasional.
Maksud lain juga yang disampaikan oleh Soekarno adalah sikap toleransi untuk saling menghargai perbedaan. Membangun daerah masing-masing tanpa mendiskriminasikan diri ataupun sebaliknya mendiskriminasikan kelompok lain atas dasar perbedaan.

Hal yang sama juga pernah disampaikan oleh Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh pada Perayaan Natal di Gelanggang Olahraga Oepoi, Kupang, Nusa Tenggara Timur (10/01/2015). Surya Paloh atau yang sering disebut Bapak Restorasi ini mengajak seluruh umat untuk menjaga pluralisme agar terciptalah kedamaian. Pluralisme adalah hal yang harus dihargai dan diterima sebagai Warga Negara Indonesia yang berideologi Pancasila. Hanya dengan sikap pluralisme dan toleransi terhadap perbedaan mampu membawa Indonesia ke arah yang lebih baik dan berkompetitif.  Pemuda diharapkan tidak lagi menghabiskan energi untuk memperdebatkan perbedaan yang mementingkan egosentrisme masing-masing.

Dengan demikian pemerintah dan seluruh masyarakat focus dalam mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia ke arah yang lebih baik. Terlebih dalam menghadapi dinamika bangsa di zaman modern saat ini, yang sangat berpotensi terjadi perang non-konvesional atau perang yang tidak menggunakan kekerasan. Perang ini bisa berupa perang ideology, perang dagang, perang mata uang dan perang cyber atau proxy war. Proxy war atau perang cyber ini bentuk modus perang baru yang menghindari system konfrontasi yang berkonspirasi jahat melakukan pemecahan suatu golongan atau pun bangsa. Sistem doktrinisasi dilakukan melalui media social dan dominan menyerang para kaum muda yang melek terhadap teknologi.

Pemuda juga diharapkan dapat memperbaiki etos kerja yang mumpuni sehingga bisa bersaing dengan dunia internasional. Dalam perkembangan globalisasi, sumber daya manusia sangat diperlukan untuk tidak tertinggal dengan negara-negara lain. Pemuda harus mampu membangunkan kembali naluri-naluri yang telah tertidur demi keutuhan NKRI. Semangat bela negara harus terus digaungkan, semangat kerjasama dan gotong royang terus dipelihara dan terus menjujung tinggi sikap menghormati terhadap jasa para pahlawan yang telah berjuang memberikan kita kemerdekaan sebagai Bangsa Indonesia yang berdaulat.

Yusadar Waruwu,S.Pd.;

Mahasiswa ABN; Ketua DPC Partai NasDem Kecamatan Somolo-Molo, Kabupaten Nias, Sumatera Utara.


,