Opini Detail

Menjawab Tantangan Zaman, Mahasiswa Jangan Takut Berpartai

Menjawab Tantangan Zaman, Mahasiswa Jangan Takut Berpartai

  • 05 Januari 2018
  • 699

Oleh; Lalu ZulQarnain

Pasca Reformasi 98, gebyar gerakan yang diinisiasi mahasiswa cenderung kian memudar. Di meja-meja diskusi, mahasiswa terkesan disibukkan dengan romantisme gerakan di masa lalu. Terlebih banyaknya tugas kampus yang menyibukkan, gerakan-gerakan mahasiswa yang berorientasi untuk mengontrol kebijakan semakin terpinggirkan.

Diamnya mahasiswa pasca reformasi tidak berbanding lurus dengan kondisi real kebangsaan. Jika mahasiswa masa lalu berkonsolidasi untuk menjawab tantangan zaman, kini sebagai mahasiswa kepekaan itu terbilang sangat longgar dan mudah dicairkan.

Saya tentu bersepakat jika setiap zaman memiliki semangat dan problemnya sendiri. Sekaligus juga ingin saya tambahkan bahwa setiap problem memiliki pejuang yang dapat terlibat untuk menyelesaikannya. Jika angkatan 08 hadir untuk menginisiasi perlawanan terhadap penjajah, angkatan 98 berkumpul untuk melawan pemerintahan yang otoritarian, lalu apakah di masa kini mahasiswa tidak lagi berhadapan dengan masalah yang cakupannya menyindir mahasiswa secara nasioanal ?

Jika kita bersepakat bahwa pemilik masa depan adalah Generasi Muda, tentu di masa mendatang, generasi yang dimaksudkan adalah kita yang muda dan menjadi mahasiswa hari ini. Menyiapkan segala atribut untuk membangun kejayaan bangsa Indonesia di masa yang akan datang, seharusnya mulai dipikirkan bersama sejak saat ini.

Diskusi soal kesejahteraan, soal keamanan, dan soal peluang kerja, hemat saya kesemuanya itu terangkum dalam aspek keputusan-keputusan politik. Sudah menjadi keniscayaannya, alam demokrasi yang diimpikan sebagai jalan menuju kemakmuran, yang paling krusial untuk dikawal adalah aspek kebijakan publik yang bersentuhan langsung dengan ruang-ruang politik. Di alam demokrasi, hampir tidak ada keputusan yang dikeluarkan tanpa melalui kajian untung rugi di kamar-kamar politik.

Jika setiap keputusan ditentukan oleh pemimpin, maka pemimpin di alam demokrasi adalah dominasi. Sebagai mahasiswa kita harus cermat melihat bahwa mahasiswa harus melihat ruang perlawanan sudah berpindah di kamar-kamar partai politik. Olehnya, Mahasiswa harus masuk dalam partai-partai politik untuk menunjukkan dominasi secara bersama-sama dalam menyuarakan kebenaran yang kemudian dijadikan sebagai sebuah kebijakan.

Saya sangat yakin mahasiswa telah lama sadar bahwa musuh kita adalah imperialis dan kapitalis, saat ini mereka datang untuk menjajah tidak lagi bermodal senjata dan kekuatan militer sebagai pintu masuk. Tetapi mereka datang dengan modal uang dan otoritas. Sehingga kita mahasiswa masih melawan mereka dengan cara lama, sementara mereka sudah berinovasi dengan penjajahan gaya baru. Alternatif paling memungkinkan bagi pemuda dan mahasiswa saat ini adalah masuk dalam partai-partai politik untuk mengintervensi setiap rumusan kebijakan yang akan diputuskan, sesuai dengan cita-cita idealnya mahasiswa guna kepentingan rakyat.

Mahasiswa tidak perlu lagi apolitis dan anti partai politik, karena mempertahankan budaya anti partai, sama saja dengan mengizinkan perompak dan penjahat politik untuk menginterfensi kebijakan. Meskipun negeri ini sudah menemukan pemimpin yang tepat, namun tidak dibarengi dengan kekuatan politik yang mendominasi, realisasi kebijakan yang pro terhadap rakyat akan tetap sulit terlaksana.

Lalu ZulQarnain (Mantan Ketua Liga Mahasiswa NasDem Sulawesi Tengah)

,