Opini Detail

#2019 “Kita Petarung atau Pecundang'

#2019 “Kita Petarung atau Pecundang'

  • 14 April 2018
  • 286


Menggunakan 'Hak', tidaklah dilarang, tetapi bijak sikap dalam menggunakan Hak tidak 'menginjak-injak' hak orang lain, sekalipun dalam koridor beda pendapat. Bukankah keberagaman merupakan keniscayaan yang tak dapat dielakkan dalam kehidupan kita. Bagi yang bermaksud #2019GantiPresiden, silahkan saja dengan sejuta argumentasinya namun bagi yang bersikap #2019JokowiPresidenLagi juga memiliki beragam argumentasi. Siapa yang nantinya dari masing masing pilihannya akan diuji secara Konstitusional terpilih menjadi Presiden, maka yang tidak terpilih sepatutnya juga menerimanya dengan profesional dan tidak emosional apalagi mengganggu jalannya Pemerintahan.

Kedewasaan Pola Leadhersip dan sikap bijak, ambisius atau profesional yang beradap, bagi seorang pemimpin akan tercermin pada pola perilaku komunitas kader-kadernya. Indonesia bukanlah milik segelintir orang dan sekoloni golongan yang bisa 'semau gue', berbuat di Negeri yang ber-Bhinneka Tunggal Ika ini. Demikian juga dalam menjalankam keyakinan dan Agama masing masing. Esensinya 'keseimbangan' adalah bagian dari pokok perilaku yang sudah saatnya di 'jaman now' ini di kedepankan...! Bukan Siapa “Lu” Siapa “Gue”.

Semoga kita semua dijauhkan dari golongan orang orang yang dibutakan mata hati kita oleh Allah, hanya karena telah menuhankan pemimpin tertinggi di partai kita, dan 'meng-agamakan' kelompok, golongan atau partai kita  yang tanpa kita sadari sesungguhnya kita tidak memahami apa dibalik 'target target pribadi pucuk pimpinanya'. Kecuali bagi mereka yang nyata-nyata pemimpinnya tidak sedang berlomba mengedepankan syahwat dan ambisi pribadinya dengan dalih mengatas namakan kepentingam bangsa dan negara dalam laga yang digelar.

Semoga semua berjalan dengan baik dan benar.! Dan kita semua dijauhkan dari pola pandang dan kebiasaan sikap dan sifat 'Lalat' yang senantiasa terbang ke sana kemari mencari 'aroma busuk', yang untuk selanjutnya beramai-ramai mengulak ulik 'busuknya bangkai tersebut' dan menebarkan kebusukan dan keburukan Orang Lain dengan penuh semangat dan suka cita tak terkecuali penyakitnya.  Tetapi kita lebih terinspirasi sifat 'Lebah' yang terbang ke sana ke mari mencari harumnya bunga.  Dihisap sari madunya, dan akhirnya menjadi madu yang bermanfaat bagi komunitasnya dan makhluk lainnya tak terkecuali juga bagi kita manusia.

Jika memilih #2019GantiPresiden, haruskah 'membongkar habis kebusukan dan keburukan 'Joko Wi', sedang nyata nyata hari ini Joko Wi adalah Presiden kita, yang seyogyanya harkat martabat sebagai bagian dari warga negara yang ada dalam wilayah Indonesia, yang memiliki adab budaya dan kehormatan sebagai bangsa yang beradap, turut serta menjunjung tinggi pemimpinnya. Suka atau tidak suka Joko Wi Presiden kita.

Demikian juga jika #2019JokowiPresidenLagi, bukan berarti membuka aib siapapun rivalnya, tapi lebih bijak jika mengedepankan capaian prestasi dari apa yang telah dan sedang dilakukannya.

Silang saling sengkarut opini tak lepas dari lepas kontrolnya pengendalian diri terhadap diri sendiri maupun kader, simpatisan dan loyalis. Kondisi ini dapat dipastikan akan senantiasa menjadi internal problem pola komunikasi dan interaksi keseharian dalam tatanan kehidupan di masyarakat. Bertubi tubinya phyciologis public dibentur benturkan dan dipaksa berbeda pendapat dengan 'tajam' pastilah akan menabung amuk kecamuk dalam setiap personal yang 'terindoktrinisasi' baik langsung maupun tak langsung.

Disintegrasi bangsa akan menjadi kekhawatiran berikutnya, karena jiwa-jiwa yang telah terbelah pada dogma, penasbian pemimpinnya, mengagamakan kelompoknya dimana benar atau salah jika bukan dari kelompoknya maka tidak akan pernah mau menerima kebenarannya, dan sebaliknya sekalipun salah jika pendapat itu dari kelompok dan komunitasnya maka dibela mati matian dalihnya.

Akankah Indonesia kehilangan marwahnya sebagai bangsa yang berbudaya, beradab, sopan dan sangat toleransi dalam kehidupan keseharian di tengah kebhineka tunggal ikaan. Sementara Budaya Gotong Royong kini sudah hampir punah, sebab luka jiwa-jiwa yang terbelah karena seringnya diadu antar mereka dalam rangka pencapaian tujuan segelintir orang, yakni mereka yang mengibarkan bendera sebagai pemimpin, tapi tidak menyadari esensinya jika dia memimpin diri sendiri dan keluarganya saja masih belum mampu.

Indikator itu semakin nampak, adalah dengan senantiasa lebih mengemukanya Kampanye Hitam bagi lawan. Bukan Kampanye yang saling menunjukkan Prestasi, Eksistensi dan Kemampuannya.

#2109 INI KARYAKU MANA KARYAMU atau #2019 INI PRESTASIKU MANA PRESTASIMU, semoga menjadi bagian dari contoh contoh Inspirasi “Slogan” Adu Jago dalam berdemokrasi.

Sesungguhnya Kita Petarung atau Pecundang akan nampak dalam perhelatan pertarungan dan sesudah menerima hasilnya.

Karena kita Indonesia, laksana 'satu penumpang di kapal besar', maka siapapun nahkodanya, jika hanya karena ambisi yang tidak kesampaian, lantas kita diam diam melubangi lambung kapalnya, maka kita akan tenggelam bersama sama juga.


Kaji Joko (H. Joko Cahyono) adalah Ketua DPD NasDem Kabupaten Pasuruan

,