Opini Detail

Menggerakkan Perempuan Dalam Ekonomi Digital

Menggerakkan Perempuan Dalam Ekonomi Digital

  • 09 Oktober 2018
  • 208



Oleh: Joice Triatman


PARA ahli mengingatkan bahwa, perdebatan soal kemiskinan, diskriminasi gender dan literasi digital seringkali memunggungi posisi perempuan sebagai angkatan kerja pengguna perangkat digital dan teknologi yang sedang meningkat.


Perempuan-perempuan dengan keterbatasan literasi digital akan menghadapi situasi yang makin sulit dan perlu berjuang keras untuk memperoleh pekerjaan formal yang aman di era teknologi yang makin maju.  


Mengutip laporan International Telecommunication Union (ITU) 2017, Lin Taylor (penulis untuk world economic forum) mengatakan bahwa secara global perempuan pengguna internet lebih rendah 12% dari pada laki-laki pengguna internet. Demikian pula dengan kepemilikan telepon genggam, perempuan pengguna pemilik telepon genggam 200 Juta lebih sedikit ketimbang laki-laki. Situasi yang demikian ini sangat tidak menguntungkan perempuan di saat semakin banyak pekerjaan formal yang tersedia dalam teknologi digital.   


McKinsey dalam laporannya yang dikutip The Economist (28/4) mengatakan perempuan-perempuan di Asia dapat memberi kontribusi besar bagi ekonomi negaranya. Laporan ini menggambarkan bagaimana angkatan kerja perempuan Jepang yang sedang melonjak. Di Filipina bahkan 142 orang perempuan menempati posisi profesional dan teknis dari setiap 100 laki-laki. China bahkan mampu memiliki 114 miliarder dari 147 miliarder perempuan tingkat dunia. 


Tahun 2016 McKinsey mengestimasikan, lebih dari 40% Produk Domestik Bruto (PDB) China disumbang oleh perempuan. Bersama Thailand, Vietnam, dan Singapura, rata-rata PDB negara yang disumbang oleh perempuan mencapai 40%, di atas rata-rata dunia. Sayangnya perempuan Indonesia baru mencapai hampir 30% kontribusi terhadap PDB. McKinsey optimistis jika produktivitas dan upah angkatan kerja perempuan ditingkatkan, akan ada tambahan kontribusi perempuan terhadap PDB (15% bagi China, 18% bagi India dan seterusnya). 


Namun demikian optimisme ini menghadapi tantangan besar dalam situasi dimana ketimpangan berbasis gender, stereotipe gender dan kemiskinan, masih kuat menghadang partisipasi perempuan untuk setara laki-laki dalam ekonomi. Maka wajar jika isu perempuan dan ekonomi ini menjadi pilihan isu yang akan dibahas juga dalam pertemuan Annual Meeting IMF-WB 2018 yang  diselenggarakan Oktober ini di Bali. 


Lanskap Ekonomi Berubah  


Banyak pakar ekonomi menegaskan bahwa lanskap ekonomi dunia saat ini sedang mengalami pergeseran, disrupsi, oleh perkembangan teknologi-digital. Perkembangan teknologi komunikasi dan internet satu-per-satu telah membuktikan kemampuannya mengguncang pola dan model ekonomi tradisional. Perusahaan start up unicorn telah lahir dan menggeser posisi pengusaha tua dalam jajaran milyarder dunia. 


Namun lagi-lagi, posisi perempuan dalam industri baru ini masih terbilang minim. Di era teknologi digital yang terus berkembang ini ketimpangan laki-laki dan perempuan masih berkutat pada hal yang sama, old wine in new bottle menurut Abigail Hunt, peneliti Oversease Development Institute, Inggris. 


Dunia digital, atau digital society (Herbing, 2015), yang saat ini berkembang pada satu sisi membuka peluang yang lebih besar berkembangnya industri digital (industry 4.0) untuk dimasuki secara setara, termasuk bagi perempuan. Pada sisi yang lain dunia digital juga telah menggerus setidaknya 12,5% jenis pekerjaan yang pernah ada di era sebelumnya. Ada ungkapan bahwa “teknologi adalah panglima bagi kemajuan suatu negara.” Digital tidak berkelamin, tapi ia menjadi panglima suatu negara memenangkan kemajuan sebuah bangsa.   


Era peradaban uber (Kasali, 2017) mengubah lanskap kesempatan ekonomi yang pernah ada. Tokopedia, Bukalapak, Blibli dan lainnya telah mengubah bayangan masyarakat hari ini tentang pasar. Go-Jek dan Grab mengubah pola mobilisasi manusia menjadi makin setara antara penyedia transportasi dan penggunanya. RuangGuru, Zenius.net dan sejenisnya telah menggoyang keberadaan lembaga belajar konvensional. Belum lagi Go-Pay, OVO, Grab-Pay, yang makin memudahkan sistem pembayaran. 


Menteri Sekretaris Negara, Pratikno, pernah mengatakan era industri 4.0 yang digawangi perkembangan teknologi, mengubah lanskap ekonomi bidang pertanian, logistik, manufaktur dan lainnya. Hal ini dimungkinkan melalui makin berkembangnya cyber-physical (kendaraan tanpa awak, robot dan lainnya), internet of things (e-bisnis, tokopedia, grab, tekfin dan lainnya), dan bio-technology (edit DNA menghasilkan sapi yang mampu memproduksi 1100Kg susu pertahun).


 Pada intinya kesempatan ekonomi di era digital terbuka luas dan tidak sama sekali menghiraukan perbedaan jenis kelamin. Siapapun yang mampu menguasai teknologi digital akan menjadi maju dalam ekonominya. 


Menyiapkan Perempuan dalam Era Digital


Harvard Business Review (2017), mengkategorikan Indonesia ke dalam negara yang disebutnya Break-out digital country. Negara yang skor digitalisasinya rendah namun tingkat evolusinya tinggi. Kondisi ini menurut mereka merupakan daya tarik tersendiri bagi investor. Bagi mereka, negara dalam kategori tersebut masih terbuka kemungkinan besar untuk memperkuat institusi yang menopang dan mengembangkan inovasinya. 


Mengutip data yang dipublikasikan statistica.com, sampai akhir 2017 pendapatan perdagangan e-commerce Indonesia mencapai USD$8,6 juta. Diperkirakan pada tahun 2022, volume perdagangan digital kita akan mencapai USD$16,5 miliar dengan tingkat pertumbuhan (Compound Annual Growth Rate-CAGR) sebesar 17,7%.


Namun problem yang dihadapi perempuan dalam era digital saat ini adalah kesenjangan keterampilan digital. Bahkan menurut Nafesh-Clarke dalam forum Kesetaraan Gender yang digelar di Chatham House London, “In tech, it's a man's world.” Seringkali digital gap didefinisikan hanya sebatas pengukuran kesenjangan akses seseorang terhadap komputer dan internet, padahal ada kesenjangan nyata antara perempuan dan laki-laki. 


Data survei yang dilakukan We Are Social dan Hootsuit (2018) yang mengatakan penetrasi internet di Indonesia mencapai 50% misalnya tidak menggambarkan penetrasi tersebut secara khusus bagi perempuan. Begitu pula data kepemilikan telepon pintar dan telepon genggam. Namun dalam data pengguna facebook, survei yang sama menampilkan lebih rendahnya pengguna perempuan ketimbang laki-laki. Cukup menarik bahwa dalam hal inklusi keuangan perempuan memiliki lebih banyak kartu kredit ketimbang laki-laki, namun perempuan lebih sedikit melakukan transaksi pembayaran melalui internet (internet payments) ketimbang laki-laki. 


Dari hal tersebut kita bisa melihat bagaimana era digital memandang perempuan baru sebatas konsumen. Sama seperti statistik ekonomi PDB juga memandang kontribusi perempuan dari segi konsumsi. Kondisi inilah yang menjadi tantangan perempuan termasuk di Indonesia saat ini. 


Lapangan ekonomi digital yang masih terus akan berkembang ini perlu diisi oleh perempuan-perempuan Indonesia sebagai aktor yang aktif. Tantangan ekonomi dunia digital adalah kreativitas dan selalu siap terhadap perubahan. Khusus bagi perempuan ada satu tantangan lagi yaitu digital gap yang harus segera diatasi. 


Dalam laporan Profil Usaha/Perusahaan 16 Subsektor Ekonomi Kreatif Berdasarkan Sensus Ekonomi 2016 yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik dan Badan Ekonomi Kreatif diketahui pengusaha di sektor ini didominasi oleh pengusaha perempuan sebesar 54,96 %. Seperti dikutip bisnis.com (Maret 2018), sektor unggulan usaha kreatif perempuan adalah kuliner dan fesyen. Namun pada sektor lain seperti komunikasi visual, film, animasi dan video masih didominasi oleh laki-laki. 


Di negara-negara OECD, kesenjangan kontribusi PDB dari pengusaha di sektor informasi, komunikasi dan teknologi (ICT) antara laki-laki dan perempuan diakui telah berkurang 15%, sementara kesenjangan kontribusi di sektor yang sama dari pekerja perempuan dan laki-laki berkisar 12% (I claves, 2016).  


Untuk urusan kreatif, kemampuan perempuan telah lama diakui oleh masyarakat di dunia. Bahkan dalam periode-periode krisis ekonomi yang terjadi di banyak negara, perempuanlah yang paling berhasil survive. Namun sayangnya kreativitas dalam era ekonomi digital belum banyak disentuh oleh perempuan, termasuk di Indonesia. 


Dalam hal kesiapan terhadap perubahan pun perempuan dikenal paling siap dan cepat adaptif terhadap perubahan. Kehalusan rasa yang dimiliki perempuan yang kadang menjebaknya untuk memilih kompromi ketimbang kompetisi. Namun bukan tidak mungkin perempuan-perempuan Indonesia menjadi aktor-aktor utama kompetisi dalam ekonomi digital. 


Literasi digital memang masih menjadi masalah besar di Indonesia. Masalah ini bukan hanya terjadi terhadap laki-laki namun juga perempuan. Literasi digital, mengacu pada kemampuan individu untuk menemukan, mengevaluasi, memproduksi dan mengkomunikasikan informasi yang jelas melalui tulisan dan bentuk komunikasi lainnya di berbagai platform digital. Dalam situasi kesenjangan digital yang besar antara perempuan dan laki-laki, maka literasi digital ini makin berat dihadapi perempuan. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi institusi pendidikan di Indonesia. 


Problem-problem dasar seperti disebut diatas menjadi problem yang harus ditangani dengan kerja sama erat antara pemerintah dan dunia usaha. Memberi kesempatan berkembang bagi perempuan untuk mengembangkan bisnis digital di satu sisi dan pada sisi lain menyiapkan perempuan-perempuan muda dengan literasi digital dan kemampuan digital yang memadai untuk masa depannya. Kemampuan digital dalam arti bukan hanya sekadar kemampuan sebagai pengguna atau konsumen. Namun lebih dari itu kemampuan untuk menghasilkan nilai tambah dari dunia digital. Langkah ini bisa dimulai dari mengenalkan anak-anak perempuan terhadap perangkat digital dan mengajaknya untuk mengetahui jauh lebih dalam terhadap perangkat digital yang digunakan. 


Dalam hal pengembangan kewirausahaan digital perempuan, perlu ada upaya serius agar perempuan dapat memperoleh akses permodalan yang sama besar dengan laki-laki. Cerita sukses Greemen Bank yang banyak melibatkan perempuan dalam penyaluran kredit perlu diperluas hingga permodalan ventura bagi perempuan. 


Untuk mendukung hal tersebut perempuan harus berani keluar dari pola dan mindset lama. Perempuan harus berani memulai bisnis tidak lagi beralas modal (ekuitas) dari keluarga dengan jumlah kecil, melainkan dari lembaga finansial dengan resiko terukur yang lebih besar. Perempuan harus lebih tekun untuk mengawasi inkubasi bisnisnya ketimbang mendatangi seminar-seminar wirausaha dan motivasi. Perempuan harus memiliki juga mindset sebagai pencari nafkah utama keluarga yang dengan hal tersebut, ia akan mampu bertahan dalam usaha yang dibangunnya ketimbang meninggalkannya dengan alasan pernikahan, memiliki anak dan sejenisnya. Perempuan harus berani mengambil modal dari angel and venture capital untuk usaha digitalnya ketimbang pembiayaan ekuitas (equity financing). Perempuan harus melawan stereotip gender yang dihadapinya. 


Industri di era digital; Science, Technology, Engineering, dan Mathematics (STEM) memiliki prospek yang masih akan terus menjanjikan. Karenanya perempuan harus lebih banyak dilibatkan sejak awal. Partisipasi perempuan dalam pendidikan berbasis STEM harus terus ditingkatkan agar penguasaan digital makin tinggi dan digital gap antara perempuan dan laki-laki bisa semakin sempit bahkan mungkin mengungguli laki-laki. Demikian juga halnya dengan akses terhadap permodalan. 


Riset yang dilakukan lembaga profesional untuk menilai kepemimpinan dalam industri telah banyak membuktikan bahwa perempuan tidak kalah dengan laki-laki. Perempuan telah banyak yang masuk jalur fast track dalam mencapai karir middle to top management. Role model yang demikian ini harus menjadi pertimbangan besar perempuan bahwa ia mampu memenangkan kompetisi dalam ekonomi digital. 


Keberhasilan perempuan untuk memenangkan persaingan dalam ekonomi digital akan mampu mengatasi banyak problem ekonomi lainnya. Ketimpangan perlakuan terhadap pekerja perempuan, upah rendah, dan diskriminasi berbasi gender yang terjadi di berbagai bidang akan dapat teratasi jika mind set perempuan pun telah berubah. Dari pekerja yang diperlakukan tidak setara menjadi pengusaha yang mampu berkontribusi bagi ekonomi negaranya. 

 

*Joice Triatman; Calon Legislatif DPRD Provinsi DKI Jakarta Dapil Jakarta X

,