Opini Detail

Hidup yang dibangun dari Komitmen dan Konsistensi

Hidup yang dibangun dari Komitmen dan Konsistensi

  • 21 Oktober 2018
  • 1146

Oleh: Rio Abdurrachman*



UNIVERSITAS Pendidikan Indonesia yang dulu dikenal dengan nama Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung punya tempat istimewa di hati Enggartiasto Lukita. Di kampus itulah, pencarian jati dirinya dimulai, meramu cita-cita pribadi dan gagasan untuk berbuat lebih untuk orang banyak. 


Kuliah di IKIP Bandung adalah salah satu milestone penting dalam hidup Pak Enggar. Itulah masa ketika segala cita-citanya mencium realitas yang berusaha diwujudkan dalam kerja nyata. Panggilan untuk pulang kembali ke kampus tercinta datang ketika Pak Enggar tengah berada dalam puncak pengabdiannya kepada bangsa yaitu sebagai Menteri Perdagangan Republik Indonesia.


Kiprah Pak Enggar dalam dunia usaha, organisasi dan politik tidak saja menabalkan namanya sebagai salah satu tokoh inspirasi tetapi juga membawa wangi semerbak untuk kampus tercinta. Untuk seorang yang menempuh pendidikan sebagai calon guru Bahasa Inggris di kampus IKIP, maka capaian Pak Enggar saat ini telah menggenapi semua impian pada masa mahasiswa. Kampus UPI melihat Pak Enggar sebagai inspirasi bangsa sekaligus teladan bagi almamaternya. Undangan dilayangkan kepadanya dengan pesan singkat, kampus memutuskan untuk memberi gelar Doktor Kehormatan untuk Enggartiasto Lukita.


Saya melihat, betapa campur aduknya perasaan Pak Enggar ketika menerima anugerah kehormatan dari kampusnya  itu. Dunia kampus senantiasa memberikan getaran tersendiri kepadanya. Saya seperti tidak sedang melihat menteri berusia 67 tahun, tetapi mahasiswa yang jiwa mudanya senantiasa abadi. Dia tidak ingin sekadar pulang ke kampus untuk menerima gelar berikut seremonial, tetapi pulang dan memberikan sesuatu untuk almamaternya. Sebuah gelar kehormatan harus dibalas dengan penghormatan untuk kampus yang memberikannya.


Kembali ke kampus dan berdiri di tengah-tengah civitas academika Universitas Pendidikan Indonesia, saya melihat sisi lain dari sosok Pak Enggar. Dia yang biasanya penuh percaya diri, tegas dan seringkali tanpa kompromi untuk hal-hal prinsipil, terlihat sedikit gugup. Ada jeda terasa ketika dia berdiri di depan podium universitas. Suaranya lirih terdengar begitu menyapa segenap civitas academika. Tatapannya berbinar seperti seorang anak yang baru saja menemukan jalan pulang. Saat kata demi kata diucapkan Pak Enggar dalam pidato penganugerahan gelar Doktor, saya tersentak, inilah kado terindah yang disiapkan oleh Pak Enggar untuk kampus tercinta. Untaian kata yang dijalin dalam malam-malam penuh perenungan.


Kewirausahaan di Era Revolusi Industri 4.0 adalah judul dari pidato ilmiah Pak Enggar. Narasinya jauh dari kesan akademis yang hanya bisa dinikmati segelintir orang. Saya mendengarkan pidato ilmiah itu, layaknya mendengar seorang teladan tengah berbagi inspirasi. Dimulai dari latar belakang keluarga sederhana dengan cita-cita tidak biasa dari orang tuanya yaitu menyekolahkan anak hingga pendidikan tinggi. Lalu dunia kampus mempertemukan Pak Enggar dengan dua hal ; semangat keilmuan di bangku kuliah dan semangat kebangsaan di jalanan sebagai aktivis mahasiswa. Kombinasi inilah kemudian yang membentuk pribadinya yang tekun bekerja dan gigih memperjuangkan nasib orang banyak.


Pak Enggar berbagi kepada civitas akademica bahwa kampus memegang peranan penting untuk membangun semangat kewirausahaan. Kampus harus mendorong jiwa-jiwa enterprenuership dan bukan sekadar melakukan transfer ilmu secara tatap muka antara dosen dengan mahasiswa. Dia merasakan, menjadi pengusaha belum memberikan imajinasi heroik kepada segenap mahasiswa sebagaimana profesi lain yang selama ini diburu setelah lulus kuliah. Padahal kewirausahaan bukan saja memicu semangat heroisme tetapi juga mendorong lahirnya pahlawan-pahlawan baru di dunia ekonomi. Itu bukan sekadar retorika, Pak Enggar mengalaminya ketika dibimbing oleh mentornya Bapak Siswono Yudhohusodo, hingga kemudian mampu membangun usaha sendiri. 


Sebagai Menteri Perdagangan, Pak Enggar tentu tahu persis soal data dan angka bagaimana kewirausahaan memberi efek besar dalam perekonomian nasional. Sayangnya, sebagaimana disesalnya, besarnya peluang itu belum diimbangi oleh pertumbuhan wirauasaha nasional. Padahal, pada pemerintahan Joko Widodo yang disebut kalangan usaha sebagai pemerintahan probisnis, peluang untuk mengembangkan diri di dunia wirausaha sangat terbuka. Berbekal pengalaman hidup yang sudah dijalaninya selama 67 tahun, Pak Enggar berbagi inspirasi tentang dunia usaha yang mengantarnya pada posisi saat ini kepada segenap civitas akademica Universitas Pendidikan Indonesia.


Entrepreneurship is not genetically inherent, it is earned by learning. Itulah salah satu poin penting dalam pidato ilmiah Pak Enggar. Untuk menguatkan teori ini, dia menyebut nama-nama besar dunia mulai dari teoritikus David Ricardo, Bill Gates, Jack Ma, Amancio Ortega, Oprah Winfrey hingga Nelson Mandela. Semua demi meyakinkan kampus yang dia cintai untuk segera mendorong tumbuh kembangnya wirausaha. Di antara nama-nama itu, dengan segala kerendahan hati, Pak Enggar sama sekali tidak menyisipkan nama beliau. Padahal kampus tercinta memanggil beliau pulang karena memandang Enggartiasto Lukita sebagai teladan untuk almamaternya dan sosok inspiratif untuk semua anak bangsa. 


Di ujung pidatonya, Pak Enggar membuat semua orang tersentuh. Setinggi apapun kesuksesan, semua dimulai dari keluarga yang sederhana. Dia mengenang mendiang orang tuanya, Bapak Tjandra Lukita dan Ibu Djuniati. Keduanya memang tidak sempat melihat putranya sampai pada puncak kesuksesan sekarang ini. Tetapi jiwa yang ditanamkan lewat kata dan teladan, bersemayam dan menebar lewat kerja dan karya putra tercinta. Dengan semangat yang sama Pak Enggar berbagi mimpi dengan istri tercinta, sehingga menjadi teladan hidup bagi kedua anaknya, Rina Anandita dan Rinaldy Ananda. 


Saat Pak Enggar mengakhiri pidatonya dengan salam, saya seperti belum mau beranjak dari gagasan-gagasan dan pengalaman yang dibaginya. Sekian tahun saya bersama Pak Enggar, tidak terhitung berapa banyak yang sudah saya pelajari darinya. Tetapi di kampus UPI, saya baru menyadari bahwa dengan komitmen dia bisa memulai banyak hal dan dengan konsistensi dia bisa menyelesaikan semua hal yang sudah dia mulai, hingga UPI mengganjarnya dengan gelar doktor honoris. 

Selamat Pak!


Rio Abdurrachman, Staf Khusus Enggartiasto Lukita

,