Opini Detail

Catatan Memperingati 115 tahun Berpulangnya RA Kartini

Catatan Memperingati 115 tahun Berpulangnya RA Kartini

  • 18 September 2019
  • 39

Oleh Lestari Moerdijat - Anggota DPR RI Fraksi NasDem


Putri sejati

Putri Indonesia

Harum namanya


Lagu ini berkumandang  di negeri  tercinta  sebagai penghormatan  kepada Pahlawan Nasional  kita, RA Kartini, dan hari kelahirannya di tanggal 21 April yang diperingati  sebagai Hari Kartini atas  penghargaan jasanya memperjuangkan emansipansi perempuan.  


Lahir di Jepara  21 April 1869  sebagai  anak kelima Bupati Jepara Raden Mas Sosroningrat, RA Kartini adalah anak dari  seorang selir  dan menjadi anak perempuan pertama dari sebelas bersaudara.


 Ibunya, Ngasirah,  adalah perempuan  kalangan biasa dan bukan keluarga bangsawan.


Meskipun demikian,  RM Sosroningrat mempunyai pikiran yang cukup maju pada masa itu. Anak-anak perempuannya diizinkan bersekolah.


Kartini  berkesempatan bersekolah di ELS (Eropese Lagere School). Namun sayang, aturan kala itu hanya memungkinkan perempuan bersekolah sampai usia 12 tahun.


Setelah mencapai usia tersebut, perempuan dari kalangan bangsawan harus dipingit dan  tidak diizinkan keluar rumah.


Pendidikan di ELS,  memberi kesempatan Kartini belajar banyak dan mampu memetik pemikiran maju. Kemahirannya berbahasa Belanda, kegemarannya membaca dan berdiskusi serta  sikapnya yang kritis - membuka ruang luas untuk pengembangan pikirannya.


Sekalipun dalam pingitan Kartini pun tidak pernah berdiam diri.  Korespondensi dengan teman-temannya di negeri Belanda terus dilakukan, dan inilah yang kemudian mendorong  Kartini untuk berjuang memajukan kaumnya.   


Di antara kawan penanya, adalah Rosa Abendanon dan Estelle (Stalla) Zeehandelaar,  yang antara lain  mendorong dan membuat pikiran Kartini menjadi lebih terbuka.


Dari kumpulan surat-suratnya kepada sahabatnya  di negeri Belanda  yang dikumpulkan dan diterbitkan menjadi buku oleh JA Abendanon sepeninggal Kartini  -  Door Duistermis tox  Licht" - Habis Gelap Terbitlah  Terang - tecatat jelas berbagai pemikian besar yang menjadi bukti betapa  keinginannya untuk melepaskan perempuan dari belenggu diskriminasi yang membudaya pada masa itu  bukan sekadar harapan, namun  sebuah keniscayaan yang harus menjadi keharusan.


Perempuan Jawa saat itu sangat tertinggal dibanding mereka yang di Belanda. Mereka tertinggal dalam pendidikan, dalam melakukan kegiatan sosial, dan dalam berpikir kritis,  bahkan dipaksa menerima saja nasibnya. Inilah yang kemudian diperjuangkan oleh Kartini bahwa perempuan Jawa perlu memperoleh persamaan hak dalam menimba ilmu, perlu kebebasan berpikir, memperoleh kesetaraan, mampu menentukan nasibnya dan berdiri di atas kaki sendiri.


Perjuangannya dimulai  dengan  mengelola sekolah perempuan  di rumahnya di Jepara.  Bukan itu saja, semangat  perjuangan melepaskan diri dari keterbelakangan dibarengi  pula dengan jiwa kewirausahaan  mendorong Kartini untuk terus maju mencari cara memberdayakan masyarakat, bukan hanya perempuan, tetapi seluruh masyarakat dengan kemampuan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri.


Di usia 17 tahun, Kartini mengikuti Pameran Nasional Karya Perempuan tahun 1898 di Den Haag, Belanda, dengan mengirimkan 21 karya Jepara termasuk, seni ukir, pigura, lukisan, sisir dan juga batik yang ia kirim beserta tata cara membuatnya. Tata cara dan prosedur pengerjaan batik itulah yang kemudian menjadi penting untuk sejarah batik Hindia-Belanda.


Kartini pun dikenal sebagai pelopor batik Lunglungan Bunga, batik motif Jepara. Demikian pula dengan ukiran  Jepara yang dipamerkannya membuka jalan bagi terciptanya industri mebel ukir Jepara yang kemudian mendunia.


Setelah dirasa usahanya cukup besar, Kartini melakukan hubungan dagang dengan Oost en West yang baru saja membuka cabang di Batavia.


Lembaga yang dipimpin oleh Ny N Van Zuylen ini berdiri tahun 1899 dan kerap menggelar pameran di Den Haag untuk mengembangkan dan memasarkan hasil kerajinan bumiputera.


Karya ukir Jepara menjadi mendunia atas jasa Kartini. Keberhasilan dalam pameran tersebut, mendorong dan sekaligus menginspirasinya untuk membantu perajin  mengembangkan usahanya. Atas jasanya, Jepara kemudian berkembang menjadi kota mebel dengan kekhasan ukiran yang terkenal.


Berkat kerja keras Kartini di bidang ini,  pada tahun 1923 pemerintah Belanda memberikan penghargaan untuk Kartini, dengan membangun sekolah pertukangan, untuk mendidik anak muda menjadi pengrajin mebel.


Ironisnya, di tengah keberhasilannya mendobrak berbagai tradisi dan memajukan perempuan  dan masyarakat, pada perjalanan hidupnya Kartini harus  menyerah kepada  tuntutan adat dan budaya dengan mengalami poligami dan menjadi istri keempat dari Adipati Djojoadiningrat, Bupati Rembang saat itu.   


Alasan usia  24 tahun yang pada masa itu terhitung tidak lagi muda - bahkan sudah dikatagorikan sebagai  perawan tua, serta demi baktinya pada sang ayah, Kartini menerima pernikahan tersebut.


Namun demikian, Kartini tegar yang  berpikiran maju menjadikan peristiwa ini sebagai salah satu langkah perjuangannya dengan mengajukan sejumlah syarat kepada  Adipati Djojoadiningrat untuk bisa menikahinya.


Syarat  tersebut antara lain meniadakan beberapa prosesi adat dalam tatacara perkawinan Jawa yang secara kasat mata menempatkan perempuan di bawah lelaki,  mendobrak tatacara budaya yang mencerminkan diskriminasi dalam keseharian, dan permintaan utama lain adalah agar dibuatkan sekolah  dan diperbolehkan mengajar.


Setelah menikah, Kartini mengelola sekolah perempuan di daerah suaminya di Rembang.  Bahkan kemudian, sekolah ini yang menjadi cikal bakal sekolah Kartini yang berkembang  kemudian di banyak daerah, seperti di Surabaya, Yogyakarta, Madiun, Cirebon dan lain sebagainya.


Manusia berencana, namun Tuhan memiliki kuasa dan rahasiaNya. Kartini tidak ditakdirkan berumur panjang. Pada tanggal 17 September 1904  di usia 24 tahun, Kartini berpulang selamanya.


Ia tutup usia empat hari  setelah melahirkan seorang putra yang diberi nama Soesalit Djojoadhiningrat pada tanggal 13 September 1904.


Kartini  dianugerahi  gelar pahlawan nasional dari pemerintah Indonesia pada tanggal 2 Mei 1964 atas jasa-jasa dan perjuangannya  mengangkat harkat dan martabat perempuan, sebagai salah satu pejuang yang ikut meletakkan dasar emansipasi perempuan di negeri ini.


Pikiran-pikiran besar Kartini tentang kesetaraan gender dimulai dengan kesadaran bahwa perempuan merupakan tiang dan guru pertama bagi anak yang dilahirkannya dan ibu anak-anak bangsa.


Perempuan adalah ibu bagi kehidupan. Oleh karenanya, perempuan harus memiliki kemampuan dan melepaskan diri dari keterbodohan, mampu mengambil keputusan dan menentukan nasibnya.


Kartini yang memiliki darah bangsawan dan hidup di kalangan penguasa justru melihat dan berpikir melampaui zamannya.


Perempuan memiliki hak yang sama dan kesetaraan dalam tatanan kehidupan, baik dalam keluarga,  maupun dalam masyarakat. Perempuan berhak diberi kesempatan dan dinilai kemampuannya untuk diberikan peran penting setara lelaki.


Kartini bahkan sudah berpikir tentang sebuah bangsa sebelum gagasan tentang Indonesia lahir. Dari surat-suratnya, diketahui bahwa Kartini telah memiliki kesadaran nasionalisme meskipun saat itu dalam konteks Jawa.


Kartini bahkan  berani mempertanyakan kolonialisme Belanda dan  menjabarkan dampaknya bagi masyarakat pribumi.


Kartini juga mengingatkan kembali  bahwa perempuan adalah tiang utama keluarga  dan ibu bangsa.  Apa yang dipikirkannya sejalan dengan sabda Rasulullah Muhammad SAW  ketika ada seseorang yang bertanya  kepada siapakah kita harus  berbakti pertama kali,  jabawannya adalah  untuk tiga kali pertama adalah ibu, ibu, dan ibu.


Telah 115 tahun, Ibu Kita Kartini - Putri Sejati - Putri Indonesia -, meninggalkan dunia fana.  Pikiran  besarnya sesungguhnya adalah pikiran Restorasi Indonesia, memperbaiki keterbelakangan, mengembalikan harkat dan martabat perempuan sesuai kodratnya sebagaimana diciptakan  oleh Tuhan Yang Maha Esa,  memulihkan posisi perempuan dan mencerahkan masa depan melalui emansipasi.


Di 115 tahun kepergiannya,  kita tundukan kepala  dan berdoa baginya.  Ingat kembali jasanya , laksanakan mimpi besarnya. Kita perempuan, dengan tanpa melupakan kodrat dan tugas sebagai anak, ibu dan istri harus mewarnai dan berperan dalam kehidupan. Menjadi diri sendiri,  memberi arti dan berarti. 


Ibu kita Kartini

Pendekar bangsa

Pendekar kaumnya

Untuk merdeka

Wahai ibu kita Kartini

Putri yang mulia

Sungguh besar cita-citanya bagi Indonesia. (*)



Lestari Moerdijat; Anggota DPR RI

,