Opini Detail

Mengenang Sepeda Tua

Mengenang Sepeda Tua

  • 04 November 2019
  • 98

Oleh: Marselinus Haristasianus Saka (Fasilitator ABN)


PADA 4 November 2018, komunitas teater Petrikor Akademi Bela Negara (ABN) Partai NasDem mementaskan teater semikolosal dengan judul “Sepeda Tua” di lapangan parade kampus, Pancoran-Jakarta Selatan. Dalam memeriahkan hari ulang tahun ke tujuh Partai NasDem pada 11 November 2018, panitia meminta agar teater ini dipentaskan kembali di de Tjolomadoe, Kabupaten Karanganyar-Jawa Tengah. 


Tulisan ini bertujuan mengenang kembali semangat Petrikor dan opus magnum pertama dari kelompok tersebut yakni “Sepeda Tua”. 


Pertanyaannya, mengapa imajinasi ‘Sepeda Tua’ harus diingat kembali setelah satu tahun berlalu? Pementasan teater itu lahir dari proses berpikir yakni critical thinking dan philosophical thinking. Sepeda Tua lahir dari sebuah kegelisahan persoalan bangsa ini yang sudah lari dari keteraturan kehidupan berbangsa dan bernegara. 


Kritik atas persoalan tersebut melalui medium teater (seni) merupakan salah satu cara menanamkan kesadaran bahwa situasi sosial-politik saat ini telah kehilangan arah. Teater ini juga hadir karena adanya proses berpikir secara filosofis-deliberatif. Ada keutamaan yang ditemukan untuk menjawab persoalan terkini bangsa ini. Keutamaan itu lahir atas dasar dialog antara sutradara dan kru, pelakon, dan dialog (refleksi) seorang sutradara dengan realitas hari ini. Keutamaan itu kemudian syarat makna karena terfragmentasi dalam semua adegan dan memberikan pesan politik yang tegas. 


Petrikor diartikan sebagai kerinduan akan aroma tanah saat hujan di tanah yang kering. Manusia pada dasarnya punya kerinduan akan aroma tanah di awal musim hujan. Kerinduan ini merupakan warisan leluhur. Hal itu sangat beralasan karena nenek moyang kita selalu merindukan hujan di awal musim. Hujan yang dirindukan akan membawa kehidupan bagi nenek moyang yang sangat mengandalkan hujan untuk kelangsungan hidup. Aroma tanah merupakan tanda bahwa kehidupan baru akan datang. 


Petrikor lahir karena adanya kerinduan sang sutradara, kru dan pelakon akan “situasi ideal”. Situasi ideal yang akan membawa kehidupan baru dalam kehidupan bangsa ini. Kerinduan itu tentu diingini atas dasar keresahan bahwa bangsa Indonesia sedang diporak-porandakan oleh anak bangsanya sendiri atas dasar kepentingan. Situasi ideal itu pernah ada dalam pikiran para pendiri bangsa ini. Para Founding Fathers berimajinasi bahwa situasi ideal itu keadaan dimana bangsa Indonesia percaya kepada Tuhan, menjunjung tinggi kemanusiaan (humanisme), persatuan (unity), demokrasi dan keadilan sosial.


Gambaran keresahan itu harus diekspresikan dan keinginan untuk kembali ke situasi ideal harus dilantangkan. Seni teater merupakan salah satu cara terbaik untuk mewujudkan keresahan dan keinginan tersebut. Pertanyaannya, kenapa harus seni? 


Belajar dari tradisi modern, seni bisa membawa manusia pada kesadaran, awareness. Seni juga bisa menjadi insinyur jiwa manusia. Artinya, seni itu sendiri tidak hanya menyasar pikiran seseorang, tetapi sekaligus perasaan. Dengan seni, kelompok Petrikor ingin menyampaikan sebuah pesan bahwa kita harus berpikir secara sungguh-sungguh terhadap persoalan bangsa saat ini dan menanamkan semangat untuk bertindak secara konkret mengatasi persoalan tersebut. Ketika politik disandingkan dengan seni, maka kejujuran dan optimisme akan lahir sebagai virtue yang akan selalu melekat pada diri pelaku politik.

 

Keseimbangan Berdemokrasi


Petrikor memberi pesan bahwa ‘Sepeda Tua’ merupakan gambaran demokrasi Indonesia saat ini. Kata tua tidak hanya bermakna demokrasi yang selalu terbentur dengan carut-marut persoalan kepentingan, tetapi juga berkutat pada pencarian bentuk implementasi yang ideal agar sesuai konteks. Yang diharapkan dari sepeda tua (demokrasi) yakni adanya keseimbangan. Meminjam apa yang dikatakan Einstein, “hidup itu seperti bersepeda, kalau kamu ingin menjaga keseimbangan, kamu harus terus bergerak maju.” Jika demokrasi dianalogikan dengan sepeda, sangat jelas demokrasi itu sendiri membutuhkan keseimbangan. 


Keseimbangan seperti apa yang diinginkan oleh komunitas Petrikor dalam pementasan ‘Sepeda Tua’? Keseimbangan yang dimaksud oleh mereka yakni keseimbangan antara kaya dan miskin, majikan dan buruh, kota dan kampung, barat dan timur, pandai dan bodoh, tasbih dan rosario. Keutamaan-keutamaan tersebut merupakan prasyarat yang harus diperjuangkan agar demokrasi bangsa ini dapat berjalan. Siapakah yang harus menyeimbangkan sepeda (demokrasi) agar dapat berjalan? Seorang pak tua yang merupakan tokoh utama dalam pementasan teater merupakan jawabannya. Dalam diri Pak Tua yang mengayuh sepeda dengan “hati” ada pesan yang ingin disampaikan bahwa yang berhak mengayuh demokrasi bangsa ini yakni manusia-manusia bijaksana yang bernapaskan humanis. Alasannya, bangsa ini harus dijalankan oleh orang-orang yang mengutamakan nilai kemanusian, bukan yang mengedepankan kepentingan pribadi atau kelompok. 


Demokrasi harus diseimbangkan oleh anak bangsa. Pernyataan ini bersifat definitif karena secara hakiki demokrasi yang seimbang harus dijalankan dengan pasti. Demokrasi merupakan esensi kehidupan bernegara yang hanya mempunyai satu tujuan yakni kesejahteraan sosial masyarakat. Ketika esensi tersebut tidak mampu mengantarkan masyarakat pada kesejahteraan sosial, kita harus mengatakan dengan tegas bahwa demokrasi tidak berjalan. Situasi saat ini, ketika korupsi masih merajalela menjadi salah satu persoalan serius dan tanda bahwa demokrasi kita berjalan di tempat, belum bisa bergerak mencapai titik tuju. 


Petrikor dengan karyanya ‘Sepeda Tua’ sebenarnya ingin menyuarakan apa yang menjadi keluh-kesah dan kerinduan anak bangsa saat ini. Menyuarakan keluh kesah dan kerinduan dengan medium seni merupakan keharusan dan tugas pokok anak-anak ABN Partai NasDem yang telah menimba ilmu tentang kepartaian dan politik. Ketika teater dipentaskan di Karanganyar-Jawa Tengah, pada 2018 saat momentum ulang tahun ke tujuh Partai NasDem, kelompok ini ingin berpesan bahwa Partai NasDem harus menjadi aktor penyeimbang demokrasi. Restorasi merupakan gagasan yang pada dasarnya berkiblat pada situasi ideal yang dipikirkan oleh para Founding Fathers bangsa ini. Kita bisa mencapai situasi ideal jika Partai NasDem mengayuh sepeda tua (demokrasi) dengan semangat restorasi.*

,