News Detail

Spirit Perubahan Berhembus Hingga Papua

Spirit Perubahan Berhembus Hingga Papua

  • 13 September 2018
  • 95
  • NasDem Papua
  • Irene Laura Simanjuntak
  • Calon Legislatif


JAKARTA (13 September): Menjalani kesehariannya sebagai seorang pengajar di Universitas Kristen Indonesia tidak menyurutkan langkah Dra Irene Laura Simanjuntak, MA untuk terus mendarmabaktikan hidupnya kepada ibu pertiwi. Program Ngopi Sore persembahan Media Center Partai NasDem episode Rabu (12/9) mengupas sosok Irene yang juga calon anggota legislatif NasDem tingkat DPR RI dari daerah pemilihan Papua.


Seperti biasa acara dipandu oleh Gantyo Koespradono yang kali ini mengawali dialog dengan menanyakan satu per satu koleksi Noken atau kerajinan tangan mama-mama Papua berbentuk tas yang dikumpulkan dari berbagai wilayah mulai dari pegunungan hingga ke pesisir kepunyaan Irene.


Papua bagi Irene bukan lagi soal dia atau mereka, melainkan ia menyebutnya dengan kata kita. Bayangkan, sejak medio November tahun 1999 Irene bersama kelompok ibu-ibu berdoa buat masyarakat Papua supaya mendapat pemerataan perhatian dari pemerintah dan masyarakat luas.


Perhatiannya dibuktikan dengan kegiatan sosial kemasyarakatan tidak hanya bergerak di bidang rohani bersama gerakannya, Irene juga membangkitkan kemampuan intelektualitas masyarakat Papua.


“Kita mengajarkan menulis karena banyak mama-mama yang belum bisa menulis,” ungkapnya.

Dosen Fisipol UKI ini pun meyakini suatu bangsa akan besar apabila kemampuan perempuannya dimajukan. Irene meyakini urusan pembangunan sumber daya manusia tidak dapat hanya dibebankan kepada institusi.


Ia pun menaruh konsentrasi yang cukup banyak dalam hal edukasi kesehatan seperti penanggulangan penyakit kaki gajah, pencegahan HIV/AIDS hingga malaria.


Beribu langkah tersebut ditempuhnya guna mewujudkan harapan besar masyarakat Papua bisa sejajar dengan provinsi lain di Indonesia. 


“Ketika perempuan itu dimajukan haknya diperhatikan kedudukannya dalam hal ini adalah pendidikan karena perempuan akan mendidik generasi selanjutnya,” ungkapnya.

Salah satu alasannya mengapa peran perempuan di Papua harus dimajukan adalah mama-mama merupakan awal pendidikan sebuah keluarga.


“Bahwa sebanyak mungkin anak muda Papua usia milenial dan juga ibu-ibu mereka harus menikmati pendidikan, dana pendidikan yang diberikan dapat secara gratis di beberapa bagian sudah mengalami di era Jokowi,” terangnya.

Akan tetapi, lanjut Irene, masih banyak saudaranya di Papua yang belum bisa merasakan fasilitas tersebut sehingga ia tidak ingin membiarkannya begitu saja.


“Saya tidak lagi mengatakan mereka, tetapi kita Papua, Papua adalah kita jadi masyarakat Papua akan merasa disejajarkan ketika ada pemimpin di sana merasakan ada payung atau tudung negara hadir,” katanya.

Irene terus berupaya menaruh perhatian yang lebih dalam dua hal pembangunan di Papua mulai dari pendidikan hingga kesehatan. Ia melihat anak-anak Papua tidak akan kalah cerdas dengan daerah lain apabila melihat kekayaan alam Papua yang begitu luar biasa, mulai dari makanan hingga sumber daya.


Kehadiran Partai NasDem sendiri di Papua, kata Irene, mendapat antusias luar biasa. Menurut Irene, masyarakat senang dengan sikap NasDem mendukung Presiden Jokowi dengan kerja nyata mengangkat masyarakat Papua di segala bidang.


Bukan hanya memperhatikan pembangunan dalam hal infrastruktur melainkan juga mengangkat taraf kesehatan, pendidikan pemenuhan kebutuhan kehidupan rumah tangga seperti pasar.


Irene mengapresiasi langkah Presiden Jokowi yang telah memberikan fasilitas berdagang di pasar kepada masyarakat tentunya dengan harga terjangkau sehingga mempersingkat waktu masyarakat untuk mendapatkan kebutuhannya tanpa harus menempuh medan yang ekstrem.


“Pasar mama-mama sudah menjadi program Pak Jokowi sejak beliau memulai pemerintahan dari nawacita membangun dan memperhatikan perempuan untuk bekerja dimulai dari keluarga yaitu pasar mama-mama,” katanya.(*)