News Detail

Menuju Kongres II, NasDem Rumuskan Kebijakan Pertanian Terintegrasi

Menuju Kongres II, NasDem Rumuskan Kebijakan Pertanian Terintegrasi

  • 14 September 2019
  • 108
  • DPP NasDem



JAKARTA (14 September): Partai NasDem memberikan perhatian besar terhadap rencana kebijakan pemerintah dalam pengembangan rantai pasok pertanian rakyat. 


Ketua Bidang Pertanian dan Maritim DPP Partai NasDem Emmy Hafild mengatakan bahwa upaya pengembangan kebijakan harus dilakukan sebagai sistem yang terintegrasi dari pembangunan industri di tingkat pedesaan hingga pengembangan pasar yang saat ini sudah berbentuk e-commerce.


Hal tersebut disampaikan Emmy dalam Focus Group Discussion (FGD) dengan tema Industri Pedesaan, Sistem Resi Gudang, dan e-Commerce Untuk Meningkatkan Pendapatan Petani & Nelayan. 


Kegiatan FGD ini merupakan lanjutan FGD sebelumnya dengan tema Agri dan Maritim 4.0. yang dilangsungkan di Kantor DPP NasDem Jakarta, Jumat (13/9).


Emmy menerangkan bahwa hasil dari penyelenggaraan FGD ini akan dijadikan rumusan kebijakan yang akan disampaikan kepada Presiden pada saat Kongres Partai NasDem yang ke-2 pada November mendatang.


“Upaya mendorong kebijakan pertanian ini harus dilakukan dengan memanfaatkan teknologi tepat guna yang dapat diterapkan dari tingkat hulu sampai hilir. Inisiasi sistem dan pengembangan akademik sudah banyak dilakukan di berbagai universitas, kita harus merangkul mereka agar dapat mendayagunakan pencapaian anak bangsa,” ungkap Emmy. 

Emmy juga menerangkan bahwa Partai NasDem saat ini tengah melakukan kajian mengenai pemanfaatan teknologi dalam bidang pertanian. Partai NasDem hingga saat ini terus mengumpulkan berbagai pakar dan praktisi agar berkontribusi dalam pembahasan kebijakan pengembangan pertanian. 


“Komitmen kami terhadap perumusan kebijakan pertanian ini akan kami sampaikan pada saat kongres NasDem pada November mendatang,” tegasnya.

Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi NasDem, Fadholi mengatakan kebijakan pertanian dengan mengadaptasi teknologi tepat guna adalah sebuah keniscayaan, meskipun, pengembangan itu memerlukan prasyarat adanya industri di tingkat pedesaan dan keberadaan gudang dengan sistem resi.


“Itulah yang kita maksud teknologi tepat guna. Karena infrastruktur pertaniannya telah dibangun terlebih dahulu,” jelasnya.

Titik perhatian utama dalam kebijakan adalah inisiatif untuk membangun industri pedesaan, mulai dari sistem on farm dan off farm sekaligus. Industri pedesaan bukanlah industri perumahan, tetapi industri skala pedesaan, yang mengolah hasil produk pertanian maupun perikanan di desa tersebut menjadi semi produk akhir maupun produk akhir.


Misalnya, desa yang banyak menanam coklat sudah harus mempunyai mesin pengering coklat sampai kadar air 12%, melakukan fermentasi, lalu memproses sampai menghasilkan mentega coklat (cocoa butter) dan bubuk coklat yang dibutuhkan industri. Fasilitas ini mesti mendapatkan sertifikat dari Kementerian Perdagangan dan BPOM, sehingga kualitas higienisnya berskala internasional.


Produk disimpan dalam gudang yang memenuhi standar internasional. Petani-petani di desa ini didata dalam mahadata untuk kemudian dipertemukan lewat platform e-commerce, dengan industri yang membutuhkannya.


 Sistem resi gudang dapat memanfaatkan mahadata ini dan sistem e-commerce dan memakai pembayaran melalui sistem gerbang pembayaran (gate way system), melalui e-ID petani dan nelayan lewat barcode yang dioperasikan lewat gawai telepon pintar.


FGD Partai NasDem dengan tema “Industri Pedesaan, Sistem Resi Gudang, dan e-Commerce Untuk Meningkatkan Pendapatan Petani & Nelayan” ini dihadiri oleh Jan Darmadi (Ketua Majelis Tinggi Partai NasDem), Fadholi (anggota DPR RI Komisi IV – Dapil Jawa Tengah 1), dan Sulaeman L. Hamzah (anggota DPR RI Komisi IV - Dapil Papua).


Sedangkan pakar dan praktisi bidang pertanian yang terlibat meliputi Kudang Boro Seminar (Dekan Fak. Teknologi Pertanian IPB), Bambang Ismawan (Ketua Yayasan Bina Swadaya, Trubust), Sanny Gaddafi (Start Up 8villages dan PETANI), Yoky Bagus Sembodo (Founder Growth Hack), Djoko Tabiat (Owner NSE Indonesia), Edi Wijayanto (Start Up SapiBagus), Jhon Deere (PT  Wahana Inti Selaras), Adi Surya (Ketua Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia), Setijadi (Supply Chain Indonesia), Juan Permata Adoe (Waketum Bidang Pakan Olahan & Industri Peternakan), Syaiful Bahri (Ketua DPP Petani NasDem), Adi Akhmad Abdillah (Founder “Bali Ecovillage”, Koloni BSF Indonesia), Muhammad Idris (anggota DPRD Provinsi DKI Jakarta–Dapil DKI Jakarta 2), Suwidi Tono (Ketua Perkumpulan Bangun Nusa Berkelanjutan), Hirohide Nakamura (Lead IoT Agriculture), Ananda Setyo Ivannanto (Lead IoT Agriculture), dan Antonius B.L. Derosari (Lead IoT Agriculture). (*)