Sosok Detail

Hermawi Taslim, Dinamis dan Religius

Hermawi Taslim, Dinamis dan Religius

  • 14 November 2017
  • 178
TAK ada satu pun yang menyangka ia akan terjun ke dunia politik. Hermawi Taslim kini dikenal sebagai salah satu politisi senior di Indonesia. Kiprahnya di jagat politik dimulai dari kisah perjumpaannya dengan tokoh Nahdlatul Ulama (NU) KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Memiliki latar belakang pendidikan hukum, pria kelahiran Padang 6 Oktober 1961 ini memilih jalur advokat sebagai ladang baktinya bagi masyarakat. Ia menjabat sebagai staf ahli di Taslim and Associates, sebuah lembaga advokasi yang ia dirikan bersama rekan sejawatnya. 


Taslim -- begitu ia biasa disapa -- ialah pribadi yang dinamis dan gemar membaca, tak jarang Taslim menghabiskan waktu luangnya di perpustakaan pribadi miliknya sendiri. Koleksi buku yang ditata rapi menjadi pemandangan indah di rumah Taslim. Tidak kurang dari 6.500 judul buku menghiasi ruang bacanya itu.


Pemilik nama lengkap Hermawi Fransiskus Taslim ini juga merupakan pribadi yang religius. Mengawali pagi dengan berdoa bersama keluarga sebelum memulai aktivitas kesehariannya telah menjadi rutinitas Taslim sejak awal pernikahan.


Sebelum memutuskan bergabung dengan partai politik, Taslim lebih dulu melewati pergulatan yang hebat. Perjumpaannya dengan Gus Dur di Bali membuka cakrawala berpikir Taslim. Baginya tujuan berpolitik itu adalah untuk kesejahteraan bersama.  


"Tidak penting apa agamamu dan sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk orang lain, orang tidak pernah tanya agama dan sukumu," ungkap Taslim.


Mantan staf ahli MPR RI ini juga dikenal sebagai salah satu pendiri Partai Keadilan Bangsa. Puluhan tahun Taslim bersahabat dengan KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Banyak pelajaran yang membekas dalam diri Taslim. Di antaranya adalah semangat menjunjung tinggi konstitusi di mana setiap warga negara memiliki hak yang sama dan tidak boleh dibeda-bedakan.


"Gus Dur itu selalu ingin mengedepankan konstitusi, karena dalam konstitusi kita tidak dibedakan antara minoritas dan mayoritas," papar Taslim.


Konflik yang terjadi di tubuh Partai Keadilan Bangsa membuat Taslim harus mengambil sikap. Bahkan keluarga memintanya untuk segera meninggalkan segala bentuk aktivitasnya dari dunia kepartaian. 


Taslim yang pernah mengenyam pendidikan di salah satu partai politik di Jerman ini akhirnya menyatakan diri bergabung dengan Partai NasDem. Langkah ini ia ambil setelah kembali mengalami pergulatan pemikiran yang panjang. Pasalnya banyak partai yang juga bernapas nasionalis mengajaknya bergabung. 


"Saya ke NasDem, karena mengusung tema perubahan. Itu yang saya cocok," kata Hermawi.


Ia memilih bergabung dengan Partai NasDem lantaran partai pengusung Gerakan Restorasi Indonesia ini sesuai dengan idealismenya. 


"Saya ingat Gus Dur pernah sampaikan tidak ada yang abadi di dunia ini kecuali perubahan dan saya rasa semangat itu sama dengan yang ada di Partai NasDem," kata Taslim.


Saat ini Taslim menjabat sebagai Wakil Sekjen DPP Partai NasDem Bidang Organisasi, Keanggotaan dan Kaderisasi (OKK).