Sosok Detail

Siar Anggreta Siagian dan Kepedulian Perempuan

Siar Anggreta Siagian dan Kepedulian Perempuan

  • 29 November 2017
  • 109

INTUISI politiknya sudah terlatih sejak dia menjadi bagian dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), mulai dari menjadi Ketua Pimpinan Komisariat Universitas Sumatera Utara (USU) hingga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat.


Siar Anggretta Siagian lahir di Kota Medan Sumatera Utara (Sumut) 23 Maret 1982. Dara berhijab ini menyelesaikan pendidikan dasarnya hingga sarjana di Kota Medan, Sumatera Utara (Sumut).


Awal mula Siar terjun ke dunia politik adalah saat dia menangani kasus Badan Arbitrase selama empat tahun. Siar juga sempat mendampingi anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Republik Indonesia.


Alumnus Sekolah Pascasarjana Universitas Indonesia (UI) Program Kajian Wilayah Timur Tengah ini memberikan bakti dan ilmunya di beberapa Universitas terkemuka di Indonesia, seperti di Universitas Nasional Jakarta dan Universitas Kutai Kartanegara Tenggarong, Kalimantan Timur (Kaltim). 


Saat ini, Siar dipercaya menjadi Sekretaris Jenderal DPP Partai NasDem Bidang Internal dan Kesekretariatan.


Siar mendorong kepada seluruh perempuan di Indonesia untuk dapat berperan aktif dalam upaya penyusunan kebijakan dan pengimplementasiannya dalam hal pembangunan bangsa Indonesia. Keterlibatannya di jagat politik menjadi motivasi besar bagi perempuan lainnya.   


"Perempuan yang tangguh harus memiliki rasa peduli yang tinggi dan diimplementasikan dengan penuh kasih sayang yang tidak terbatas," terang Siar. 


Siar bertekad untuk terus membangkitkan kesadaran kaum perempuan agar dapat menyadari betapa pentingnya terlibat langsung dalam proses pengambilan keputusan dan tentunya tidak ada kata lain selain ikut berpartisipasi dalam seluruh rangkaian kegiatan tersebut.


"Ketika perempuan menyadari pentingnya keterlibatan dan proses pengambil kebijakan, tidak ada kata lain kecuali melibatkan diri secara maksimal," tambah Siar.


Bagi Siar, setiap warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk memainkan status dan perannya dalam mewujudkan kesetaraan, kesejahteraan serta keadilan sosial di Indonesia.


"Oleh karena itu, bukan zamannya lagi perempuan cuma jadi penonton," ujar Siar.[]

"Perempuan tangguh harus memiliki rasa peduli yang tinggi dan diimplementasikan dengan penuh kasih sayang tanpa batas."