Sosok Detail

Surya Paloh dan Krisis Bangsa

Surya Paloh dan Krisis Bangsa

  • 07 Desember 2017
  • 226

SEMANGAT mempertahankan ideologi Pancasila dan nasionalisme kebangsaan demi NKRI bukan lagi telah mendarah daging di dalam tubuhnya, melainkan telah merasuk ke tulang sumsumnya.


Jangan heran jika ada pihak atau sekelompok orang yang sengaja mencoba merobek tenun kebangsaan, ia angkat bicara dengan suara yang menggelegar. "Kita harus siap melawan, sebab Pancasila sudah terbukti sebagai perekat, pemersatu bangsa," katanya.


Sang pembawa semangat NKRI itu siapa lagi kalau bukan Surya Paloh, Ketua Umum Partai NasDem. Pria yang bernama lengkap Surya Dharma Paloh ini konsisten dan konsekuen dengan apa yang dikatakan.


Keindonesiaan selalu mewarnai di setiap organisasi dan perusahaan yang didirikan dan dibangunnya, termasuk NasDem tentunya. Perusahaan media yang didirikannya, seperti Media Indonesia dan Metro TV tak ubahnya adalah miniatur Indonesia.


Di sana berkumpul SDM andal dengan latar belakang suku, asal-usul dan agama yang berbeda. "Kita mendirikan Metro TV bukan untuk golongan tertentu, tapi untuk semua orang, untuk bangsa ini," katanya saat awal Metro TV didirikan tahun 2000.


Bersama kawan-kawan seperjuangan mendirikan Partai NasDem pastinya juga dalam rangka NKRI. Bukan untuk mencari keuntungan pribadi. Bahkan di bawah kepemimpinannya, NasDem membuka diri untuk putra-putri terbaik bangsa yang rindu menjadi pemimpin tanpa syarat (mahar).


Surya Paloh menjadi sosoknya seperti sekarang dirintis dari bawah. Pria kelahiran Kutaraja, Banda Aceh, 16 Juli 1951 ini saat masih berusia 14 tahun sudah berusaha mandiri dengan berbisnis leveransir di sebuah kota kecil Serbelawan tahun 1965. 


Saat duduk di bangku SMA, Surya bekerja sebagai manajer Travel Biro Seulawah Air Service. Ide-idenya yang cemerlang tak bisa membuatnya diam. Gagasannya orisinil. Pada tahun 1986 ia mendirikan koran Prioritas dan menjadi surat kabar pertama di Indonesia yang dicetak berwarna. Sayang surat kabar ini tak berusia panjang karena dibredel penguasa Orde Baru karenanya isinya kerap mengkritisi pemerintah.


Setelah sukses mengelola koran Media Indonesia, bersama anak-anak muda di koran itu, Surya Paloh mendirikan Metro TV, stasiun televisi berita pertama

di Indonesia. Gagasan orisinilnya kemudian diikuti oleh pihak-pihak lain.


Surya Paloh sudah selesai dengan dirinya sendiri. Partai NasDem adalah media bagi Surya Paloh dan kawan-kawan seperjuangan pecinta NKRI untuk menjadikan Indonesia ke depan jauh lebih baik. Tak tanggung-tanggung, berjuang di partai ini, Surya Paloh dan kawan-kawan tak cukup membawa reformasi, tapi restorasi.


Surya Paloh mengatakan gerakan perubahan restorasi merupakan solusi krisis kepribadian yang dialami bangsa Indonesia. Menurutnya, bangsa Indonesia harus bersyukur karena dianugerahi pemikir-pemikir besar yang telah menetapkan ideologi bangsa, Pancasila. 


Pancasila, kata Surya, merupakan pemikiran otentik mahakarya pemikir-pemikir bangsa. Indonesia juga memiliki keunggulan dari aspek geografis dan demografis.


"Dengan potensi yang dimiliki, harusnya Indonesia sudah berdaulat dalam bidang politik dan ekonomi serta memiliki kepribadian yang unggul," tegasnya.


Apakah restorasi yang dicanangkan NasDem sudah membawa hasil? Tentu belum. Perjuangan masih panjang. Faktanya, lanjut Surya suatu kali, ketergantungan bangsa Indonesia terhadap bangsa lain masih tinggi. 


Ketergantungan itu disebutnya belum seimbang dengan ketergantungan bangsa lain kepada Indonesia. Indonesia juga belum mampu secara ekonomi meski memiliki pasar domestik dan sumber daya nasional yang besar. Bahkan, kepribadian sebagai satu bangsa pun mengalami demoralisasi.


"Ketertinggalan dalam kemajuan teknologi dan pembangunan infrastruktur dapat dikejar dengan cepat, tapi ketertinggalan moral tidak bisa sesingkat itu, butuh proses yang panjang," katanya.[]