Sosok Detail

Mahmudah Figur Pejuang Perempuan dari Lombok

Mahmudah Figur Pejuang Perempuan dari Lombok

  • 24 Oktober 2018
  • 619

LOMBOK (24 Oktober): Jika mendengar nama Mahmudah sepertinya masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB) akan segera teringat dengan sosok aktivis perempuan satu ini.


Sudah menjadi satu prinsip bagi diri seorang Mahmudah untuk rela mengabdikan diri dan berkorban banyak waktu membantu masyarakat miskin di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).


Taufik Khurahman (alm) mendiang kakak Mahmudah adalah orang pertama yang mengenalkannya dengan dunia aktivis.


 Almarhum merupakan pendiri sekaligus penanggung jawab Lembaga Advokasi Rakyat untuk Demokrasi (LARD) NTB.


Di sana Mahmudah mendapat banyak pendidikan terkait perjuangan membela warga miskin. Sehingga ia lebih banyak menghabiskan waktu di desa-desa terpencil daripada di dalam ruang kuliah.


Mahmudah sangat yakin bahwa desa adalah laboratorium perjuangan baginya. Banyak gagasan yang ia lontarkan untuk mewujudkan keadilan bagi masyarakat miskin di Indonesia. 


“Warga yang pernah saya bantu adalah bagian dari keluarga besar saya,” imbuhnya. 

Di Lembaga Advokasi Rakyat untuk Demokrasi (LARD) NTB Mahmudah mengabdikan hidupnya sebagai Direktur Eksekutif. Ia mulai banyak bergaul dengan tokoh-tokoh berpengaruh di NTB mulai dari latar belakang aktivis, tokoh masyarakat, tokoh agama, barisan akademisi, hingga birokrat ngetop.


Perjalanan hidup Mahmudah sebagai aktivis memang tak perlu diragukan lagi. Pasalnya ia telah bekerja dan memimpin banyak program di NTB termasuk aktif di Front Pembela Rakyat (POPOR). 


Tahun 2003, Mahmudah menjadi bagian dari Liga Mahasiswa Menuju Demokrasi (LMND) di Universitas Mataram (UNRAM). Empat tahun lepas ia bahkan didaulat menjadi Community Organizer  (CO) di Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) NTB.


Tak hanya itu, tahun 2009 ia juga dipercaya sebagai Sekretaris Institut Perempuan untuk Perubahan Sosial (INSPIRASI) NTB. Di tengah kesibukannya itu ia juga bahkan bersedia menjadi Ketua Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) cabang Mataram.


Tahun 2014-2016 Mahmudah sempat memimpin Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) Kota Mataram.  Saking pedulinya terhadap perempuan ia juga mengemban jabatan Wakil Sekretaris Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia (FPPI) NTB.


Meski pengalamannya sangat berlimpah termasuk di tahun 2014-2017 mendapat kepercayaan sebagai Tim advokasi Bale Mediasi NTB namun Mahmudah merasa jalan pengabdiannya sebagai aktivis tak cukup untuk mendorong kebijakan pemerintah. 


“Kita tak cukup bekerja dari luar, harus masuk sistem,” imbuhnya.

Mahmudah memahami benar bahwa ia tak memiliki kemampuan finansial yang cukup seperti kandidat caleg lain, namun dengan latar belakangnya yang istimewa itu Mahmudah tetap yakin bahwa ia bisa terus berbuat untuk masyarakat.


Caleg DPR RI Partai NasDem Dapil NTB II nomor urut 3 ini memilih Partai NasDem sebagai kendaraan politiknya menuju Senayan dengan berbagai pertimbangan salah satunya adalah kaya akan gagasan. 


“Apa yang selama ini saya pikirkan dan perjuangkan ada dalam batang tubuh Partai NasDem,” katanya di sekretarian Mahmudah Center.

Menurutnya, politik itu juga mampu mendatangkan kemaslahatan selama pemegang kuasa di dalamnya memiliki gagasan dan bersedia mengabdi untuk masyarakat kecil. 


“Jangan melihat politik itu melulu secara hitam putih,” tegas Mahmudah.

Di samping itu, perempuan kelahiran 1 September 1978 ini memiliki keyakinan bahwa terwujudnya partai politik yang sehat berawal dari orang-orang di dalamnya dengan gagasan dan rela turun di lapangan. 


“Gagasan saja tidak cukup, tanpa rela bekerja bersama masyarakat,” imbuhnya.

Ia menceritakan bagaimana di awal ia merasakan pergulatan batin yang cukup panjang sebelum bersedia masuk sebagai bagian dari Partai NasDem.


 Namun ternyata diakui Mahmudah bahwa jalan aktivis itu tidak bisa dilepaskan dari politik.


Politik baginya sudah seperti lembaga perjuangan dan Mahmudah akan selalu menjadi aktivis dimanapun ia berada. Ia pun merasa sudah siap berjuang di jalan baru ini baginya kemenangan dirinya adalah kemenagan bersama masyarakat.


“Berpolitik itu tergantung cara kita memahaminya, kalau kita melihat ada masalah dari dalam mari sama-sama kita perbaiki,” tandasnya.*