Sosok Detail

Tunggu Buddy Ace di Senayan

Tunggu Buddy Ace di Senayan

  • 07 November 2018
  • 21

JAKARTA (26 Oktober): Sarjana ilmu pertanian yang satu ini adalah penggagas agribisnis online untuk kalangan muda perkotaan. Ia memiliki tekad besar untuk menjadikan ekonomi kreatif makin bergelora di Indonesia. Laki-laki kelahiran Donggala  19 Juni 1965  ini bekerja dan berjuang agar dunia ekonomi kreatif dapat menjadi oksigen bagi perekonomian bangsa ini.


Buddy Ace adalah sapaan populernya. Ia merupakan Pemimpin Redaksi Koran Slank, yang mendapat dorongan dari Bimbim, drummer sekaligus pendiri Slank, untuk menjadi politisi di Senayan.


Tak hanya mendapat support dari Bimbim dan Abdee, ketiga personel Slank lainnya, Kaka, Ivanka dan Ridho pun memberikan supportnya.


Bahkan, Bunda Iffet Veceha Sidharta, manajer Slank, juga memberikan dukungan dan siap untuk menemani Setiabudi, saat kampanye dan bertemu konstituennya di wilayah Jakarta Timur untuk kampanye antinarkoba.


"Bunda Slank, punya pengalaman nyata, bagaimana menghadapi para pengguna narkoba, sampai mereka sembuh. Pengalaman hidup itu bisa dibagikan ke emak-emak di Jakarta Timur," terang Budi.

Saat ini ia sedang berjuang bersama Partai NasDem di pemilihan anggota legislatif DPR RI Dapil DKI Jakarta I (Jakarta Timur) nomor urut 6.


"Saya menyampaikan rencana menjadi caleg, usai bertemu dengan Presiden Jokowi di Istana Negara. Saat itu ada Bimbim dan Abdee. Keduanya sepaham dan sepakat dengan rencana saya untuk menjadi anggota DPR RI," ungkap Setiabudi, yang tak lain adalah kakak kandung Abdee Slank.

Satu hal yang merupakan keistimewaan Buddy adalah ia putra mantan anggota DPR RI, almarhum Andi Cella Nurdin, tokoh Muhammadiyah. Ia punya kemampuan dalam memberikan motivasi tentang berpikir, aktif, kreatif dan produktif.


Setiabudi adalah Ketua Harian IMF (Indonesia Musik Forum), yang mulai menulis dan mengamati tentang industri musik Indonesia sejak tahun 1986.


Hal itu yang membuatnya dekat dan lekat dengan kalangan musisi dan industri musik tanah air sekaligus memahami peta permasalahan industri musik di Indonesia.


Menurutnya,  industri musik di Indonesia saat ini  baru berdiri tegak di Jakarta. Ia khawatir melihat kondisi di wilayah lain yang menurutnya masih sangat lemah.


“Oleh karena itu perjuangan saya hari ini dan sudah saya lakukan sejak tiga tahun lalu yaitu menghidupkan kantong -kantong kesenian,  khususnya seni musik di seluruh wilayah Indonesia,” katanya. 

Dalam konteks musik, Setiabudi, tak pernah berhenti berkreasi dan berproduksi. Sejak 2010, ia mengelola Maleo Music, yang memproduksi album musik sekaligus menjadi manajemen sejumlah musisi kenamaan.


Hingga kini, ia masih mengelola AIRS (All Indonesian Rockstars), sebuah band kolaborasi sejumlah musisi ternama Indonesia, seperti Abdee Begara, Aria Baron, Sandy Pas Band, John Paul Ivan, Yuke Dewa, Thomas Ramdhan, Andy Rif, Candil, Oppie Andaresta, Anji, Zian Spectre, Fadly Padi, Yoyo Padi, dan sejumlah nama besar dari kalangan musisi lainnya.


Setiabudi pun pernah membantu aktivitas Glenn Fredly dan 500 musisi lainnya, pada Konferensi Musik Indonesia di Ambon, awal 2018 yang berjalan sukses.


Tak heran jika sejumlah nama beken tersebut pun mendukung aktivitas Setiabudi dalam sosialisasi dan kampanye, di antaranya Glenn Fredly, Sandy Pas Band, John Paul Ivan, termasuk wartawan musik senior, Bens Leo dan Amazon Dalimunthe.


Tapi ada satu sisi di mana ia merasakan kepedihannya bahkan membuat ia menangis dan merenunginya bahwa betapa hari ini ia masih melihat banyak ondel-ondel berkeliling Jakarta selaiknya pengamen.


“Ini kebudayaan luhur adi luhung dan Jakarta adalah pintu gerbang kalau Indonesia mau maju maka kebudayaan di Jakarta juga harus maju,” ungkapnya.

Ia pun mengaku memiliki keinginan untuk menjadikan kebudayaan Betawi itu sebagai pintu gerbang kebudayaan di Indonesia.


“Jakarta ini ibukota negara seharusnya menjadi pintu gerbang apa pun yang berkembang di Indonesia saya prihatin karena kebudayaan Betawi yang menjadi kebudayaan dominan di Jakarta ini cenderung terpinggirkan,” ungkapnya.

Anggota Dewan Pertimbangan Forum Wartawan Hiburan (FORWAN) ini pun memiliki tekad untuk bisa mengembangkan pusat industri kesenian, tidak hanya di Jakarta saja, tetapi juga merata ke seluruh wilayah Indonesia.


“Jakarta sebagai pintu gerbang wajib membuka ruang ekonomi kreatif kepada seluruh wilayah di Indonesia,” tukasnya.

Selain menaruh konsentrasinya di bidang kesenian pria satu ini juga menaruh perhatian di bidang pendidikan. Berdasarkan pengalamannya turun lapangan di dapilnya Jakarta Timur hampir pasti ia selalu menemukan generasi muda usia produktif yang masih menganggur.


“Di daerah Jakarta Timur saya tidak menyangka masih ketemu pengangguran. Sangat  menyedihkan ini yang akan saya kerjakan sebagai pekerjaan rumah saya ketika saya duduk di DPR,” ucapnya.

Padahal ia yakin begitu banyak peluang kerja di Jakarta,  tetapi saat ini belum ada pihak yang dapat melakukan mediasi untuk mengantarkan masyarakat dari yang menganggur ke pekerjaan yang sebenarnya banyak dan diinginkan publik.


“Jangankan di 34 provinsi, di ibu kota ini pun masih banyak anak muda kita yang menjadi pengangguran,  sangat menyedihkan,” lirihnya.

Satu kesedihan yang paling mendalam bagi diri Sekretaris Jenderal, Organ Relawan Perkumpulan TEMAN JOKOWI ini adalah masih banyak anak muda yang menganggur dan tidak tahu harus bekerja di bidang apa.


“Menurut saya jawaban hari ini adalah anak muda harus diberi ruang kreatif di mana negara hadir di sana memberikan ruang dan motivasi kepada anak-anak ini. Insyaallah saya akan memperjuangkan itu untuk bangsa Indonesia saya mulai dari DKI Jakarta,” tandasnya.(*)